Uang Kampanye dan Harga untuk Dikenal
Daftar isi
Penelitian Gary C. Jacobson tentang belanja kampanye, keterkenalan calon, dan persaingan dengan petahana.
Nama seorang anggota parlemen bisa beredar jauh sebelum musim kampanye tiba. Warga mengenalnya melalui pemberitaan, urusan daerah pemilihan, atau pekerjaan selama menjabat. Ketika ia maju lagi, sebagian pemilih sudah mempunyai kesan tentang dirinya. Penantangnya menghadapi pekerjaan tambahan. Ia harus lebih dahulu mendapat perhatian sebelum orang bersedia menilai gagasannya. Perbedaan ini membuat uang kampanye punya kegunaan yang berlainan, sekalipun jumlah yang dibelanjakan sama.
Gary C. Jacobson meneliti persoalan itu dalam “The Effects of Campaign Spending in Congressional Elections”, yang terbit di American Political Science Review pada 1978. Dari pemilu Kongres Amerika Serikat 1972 dan 1974, ia menemukan hubungan belanja dan perolehan suara yang lebih kuat pada penantang, terutama dalam pemilihan House of Representatives, majelis rendah Kongres. Temuan tersebut mengajak kita memeriksa apa yang sebenarnya dibeli dengan uang kampanye. [1, hlm. 469–470]
Keunggulan sebelum kampanye
Selama menjabat, petahana mempunyai kesempatan untuk berhubungan dengan pemilih dan membangun reputasi. Sebagian pekerjaan memperkenalkan diri sudah berlangsung melalui kegiatan jabatan. Penantang harus mengejar ketertinggalan itu dalam waktu yang lebih sempit. Bagi calon yang jarang terdengar, biaya untuk menyampaikan pesan dapat membuka akses ke perhatian pemilih yang sebelumnya sulit ia dapatkan. [1, hlm. 470, 479–480]
Survei yang dipakai Jacobson memperlihatkan jaraknya. Pada pemilu House 1972, 50 persen pemilih dalam sampel dapat mengingat nama petahana dan 27 persen mengingat nama penantang. Dua tahun kemudian, angkanya 57 dan 31 persen. Dalam pemilihan Senat 1974, petahana diingat oleh 73 persen pemilih, penantang oleh 44 persen. Persentase pada Tabel 9 ini mengukur ingatan atas nama, bukan suara yang diperoleh calon. [1, hlm. 480]
Grafik 1 · Hasil survei
Siapa yang lebih mudah diingat?
Persentase pemilih dalam survei yang dapat mengingat nama kandidat. Arahkan, sentuh, atau fokuskan batang untuk melihat sampelnya.
Lihat angka dan sumber
| Kontes | Petahana | Penantang | N |
|---|---|---|---|
| House 1972 | 50% | 27% | 498 |
| House 1974 | 57% | 31% | 856 |
| Senat 1974 | 73% | 44% | 595 |
Jacobson (1978), Tabel 9, hlm. 480. Survei SRC 1972 dan 1974; survei 1974 berbobot. N = jumlah kasus yang menjadi dasar persentase dalam tabel artikel. Kolom kandidat di open seat tidak ditampilkan.
Meski demikian, orang yang baru mencalonkan diri belum tentu asing bagi pemilih. Ia mungkin sudah dikenal lewat pekerjaan atau aktivitas lain. Status petahana memberi petunjuk tentang keunggulan awal, tetapi keterkenalan setiap calon tetap perlu diperiksa.
Belanja besar saat kedudukan terancam
Pola belanja petahana mula-mula tampak ganjil. Tanpa memperhitungkan faktor lain, pengeluaran yang lebih besar justru berkorelasi dengan suara yang lebih tinggi bagi penantangnya. Apakah kampanye mahal malah merugikan orang yang sedang menjabat? [1, hlm. 472]
Ada penjelasan yang lebih masuk akal. Petahana menambah pengeluaran ketika lawan mulai mengancam. Persaingan yang menguat mendorong belanja sekaligus memperburuk prospek kemenangannya. Korelasi tadi dapat muncul karena uang dikeluarkan untuk menghadapi kesulitan yang sudah ada.
Dari 39 petahana House yang kalah pada 1974 dalam perbandingan Jacobson, 34 membelanjakan lebih banyak daripada ketika menang pada 1972. Rata-rata belanja kelompok yang kalah itu naik dari US$69.218 menjadi US$101.645, sekitar 47 persen. Mereka tetap kehilangan kursi. Namun, angka ini belum memberitahu kita seberapa buruk hasilnya jika mereka tidak menambah belanja. [1, hlm. 474]
Mencatat jumlah pengeluaran saja menyisakan celah besar. Kita juga perlu mengetahui keadaan yang membuat calon merasa harus mengeluarkan uang sebanyak itu.
Arah hubungan uang dan suara
Belanja dapat membantu calon memperoleh dukungan. Hubungannya juga berjalan ke arah sebaliknya. Calon yang tampak berpeluang menang lebih mudah menarik penyumbang. Pengalaman politik dan daya tarik pribadi dapat memengaruhi keduanya sekaligus. Karena itu, hubungan belanja dan suara yang terlihat dalam data tidak seluruhnya bisa dianggap sebagai akibat pengeluaran kampanye. [1, hlm. 470, 474–475]
Jacobson memulai dengan regresi biasa, atau ordinary least squares (OLS). Ia memisahkan belanja petahana dan penantang, lalu memperhitungkan partai serta kekuatan partai di daerah pemilihan. Analisis House mencakup 296 kontes pada 1972 dan 319 pada 1974, terbatas pada persaingan petahana dan penantang dari partai besar yang memenuhi kebutuhan data model. Cakupannya bukan seluruh pemilihan legislatif. [1, hlm. 472, Tabel 1 dan catatan 5]
Untuk menangani hubungan timbal balik tadi, ia memakai two-stage least squares (2SLS). Belanja terlebih dahulu diperkirakan melalui variabel instrumen, kemudian hasil perkiraan itu dimasukkan ke persamaan suara. Pendekatan ini membutuhkan asumsi yang kuat. Instrumen harus berhubungan dengan belanja tanpa memengaruhi suara melalui jalur lain di luar hubungan yang dimodelkan. Ketepatan hasilnya bergantung pada apakah asumsi tersebut terpenuhi. [1, hlm. 474–475]
Dalam model lengkap 2SLS, tambahan US$10.000 belanja penantang menghasilkan estimasi kenaikan pangsa suaranya sebesar 1,63 poin persentase pada 1972 dan 1,79 poin pada 1974, dengan variabel lain tetap. Tambahan belanja petahana dalam jumlah yang sama berkaitan dengan penurunan suara penantang sebesar 0,51 dan 0,22 poin. Semua koefisien dibaca terhadap hasil yang sama, yakni pangsa suara dua partai penantang. [1, hlm. 476, Tabel 4]
Angka 1,79 poin, misalnya, berarti perubahan dari 40 persen menjadi 41,79 persen dalam pembacaan model. Itu bukan kenaikan peluang menang sebesar 1,79 persen.
Ketepatan estimasinya pun tidak seragam. Koefisien belanja penantang dalam model lengkap 1974 tidak signifikan pada ambang 5 persen artikel. Begitu pula koefisien belanja petahana pada kedua tahun. Jacobson membahas hubungan yang sangat kuat antara dua variabel belanja hasil perkiraan sebagai penyebab rendahnya presisi. Model lain yang menghilangkan belanja petahana menghasilkan estimasi lebih presisi, tetapi susunan variabelnya sudah berbeda. Besaran koefisien perlu dibaca bersama keterbatasan ini, bukan diperlakukan sebagai tarif pasti untuk menambah suara. [1, hlm. 476–477, Tabel 4–5]
Grafik 2 · Estimasi regresi
Belanja siapa yang terkait dengan suara penantang?
Perubahan pangsa suara dua partai penantang per tambahan US$10.000 belanja kandidat yang disebut, dengan variabel lain dalam model tetap.
● signifikan ○ tidak signifikan pada ambang 5% artikel
Lihat koefisien dan cara membaca
| Model | Belanja penantang | Belanja petahana | N |
|---|---|---|---|
| 1972 OLS | +1,12 | −0,02 | 296 |
| 1974 OLS | +1,21 | −0,28 | 319 |
| 1972 2SLS | +1,63 | −0,51 | 296 |
| 1974 2SLS | +1,79 | −0,22 | 319 |
Jacobson (1978), Tabel 1 (hlm. 472) dan model lengkap pada Tabel 4 (hlm. 476). Koefisien dikalikan 10 karena satuan asli belanja adalah ribuan dolar. Tanda negatif belanja petahana dipertahankan karena variabel hasil tetap suara penantang. Ambang mengikuti artikel, |t| ≥ 1,98.
Arahkan atau sentuh titik untuk melihat nilai t. Dengan keyboard, fokuskan baris lalu tekan panah atas/bawah untuk berganti kandidat. Titik adalah estimasi, bukan tarif pasti mendapatkan suara. Data mikro tidak diberikan sehingga interval kepercayaan tidak dihitung ulang.
Dikenal belum tentu disukai
Analisis survei House memperlihatkan bahwa hubungan belanja dengan pengenalan umumnya lebih kuat bagi nonpetahana. Kelompok ini mencakup penantang dan calon di kursi yang tidak diperebutkan petahana. Modelnya menunjukkan kemungkinan mempersempit selisih pengenalan melalui kampanye, meskipun biaya yang diperlukan bisa jauh melebihi belanja lazim penantang. Temuan Senat lebih beragam. Setelah hubungan timbal balik diperhitungkan, belanja dalam analisis pengenalan terlihat bekerja lebih serupa bagi petahana dan nonpetahana. [1, hlm. 481–485, Tabel 10]
Grafik 3 · Rekonstruksi model historis
Bagaimana belanja berkaitan dengan pengenalan?
Geser belanja untuk mengeksplorasi kurva yang direkonstruksi dari persamaan Jacobson. Kedua kandidat dibandingkan pada nilai belanja yang sama.
House 1972
House 1974
Lihat persamaan dan batas model
Persamaan dari Tabel 10, hlm. 483, dengan rentang mengikuti Figur 1 dan 2. Peluang = 1 / (1 + exp(−(a + bE))). Nonpetahana 2SLS memakai a = −1,25 dan b = 0,0087 pada 1972, serta a = −1,20 dan b = 0,0104 pada 1974. Petahana OLS memakai a = −0,036 dan b = 0,0005 pada 1972, serta a = −0,129 dan b = 0,0078 pada 1974.
E dalam ribuan dolar AS, nominal pada tahun pemilu. Untuk nonpetahana 2SLS, E adalah belanja hasil prediksi tahap pertama; untuk petahana OLS, E adalah belanja aktual. Perbandingan dua estimator yang berbeda mengikuti figur artikel. Nonpetahana mencakup penantang dan calon di open seat.
Kurva adalah rekonstruksi persamaan, bukan data baru atau titik observasi individual. Nilai pada nol belanja adalah intersep model. Tidak ada pita ketidakpastian karena tabel yang digunakan tidak menyediakan informasi yang memadai untuk menghitungnya. Pengukuran ini tidak memprediksi suara atau kemenangan.
Perhatian pemilih juga bisa membawa penilaian buruk. Dalam survei Senat 1974, pemilih yang mengenal calon lebih sering mempunyai komentar tentangnya, baik positif maupun negatif. Sebagian yang tidak mampu menyebut nama calon tetap dapat memberikan penilaian. Jadi, ingatan atas nama hanya menangkap sebagian pengetahuan politik seseorang. Kampanye yang membuat calon lebih dikenal memungkinkan gagasannya dipertimbangkan, sekaligus membuka kekurangannya untuk diperiksa. [1, hlm. 485–488]
Batas belanja dan kesempatan bersaing
Jika penantang sulit menjangkau pemilih, pembatasan biaya yang terlalu rendah dapat mempertahankan keunggulan petahana. Orang yang sudah dikenal tetap menikmati reputasinya, sementara lawannya kehilangan ruang untuk memperkenalkan diri. Batas nominal yang sama belum tentu menghasilkan kesempatan bersaing yang setara. [1, hlm. 489–490]
Sebaliknya, dalam model House Jacobson, subsidi yang menambah kemampuan penantang untuk berkampanye berpotensi memperkuat persaingan.
Usulan itu bukan resep yang berlaku tanpa melihat keadaan. Dampak kombinasi subsidi dan batas belanja berbeda antara 1972 dan 1974. Perubahan suasana politik ikut menentukan hasilnya. [1, hlm. 489–490]
Penelitian ini juga tidak mengukur seluruh tujuan reformasi pembiayaan, seperti mengurangi ketergantungan kepada penyumbang atau mencegah penyalahgunaan dana. Persoalan tersebut tetap membutuhkan bukti tersendiri.
Perdebatan tentang efek belanja terus berkembang. Alan Gerber, dalam penelitian pemilihan Senat yang terbit pada 1998, menggunakan variabel instrumental dan memperoleh estimasi efek marginal belanja petahana dan penantang yang kurang lebih sebanding. Hasil itu menunjukkan kepekaan kesimpulan terhadap konteks dan cara menangani hubungan timbal balik. Karena yang diteliti adalah Senat, temuannya tidak langsung membatalkan seluruh hasil Jacobson untuk House. [2]
Pertanyaan untuk pemilu Indonesia
Pemilu DPR dan DPRD Indonesia pada 2024 menggunakan sistem proporsional terbuka. Suara calon menentukan siapa yang terpilih dalam perolehan kursi partainya. Seorang caleg berhadapan dengan calon dari partai lain sekaligus bersaing dengan rekan separtai. Struktur ini berbeda dari kontes dua partai dalam analisis utama House yang dibahas Jacobson. [3]
Dengan perbedaan itu, koefisien Amerika Serikat pada 1970-an tidak dapat dipindahkan menjadi perhitungan biaya mendapatkan suara di Indonesia. Mengonversi US$10.000 ke rupiah tidak membuat efeknya ikut berlaku. Biaya menjangkau pemilih, peran partai, dan jumlah kursi mempunyai pengaruh yang perlu diteliti di sini.
Kerangka Jacobson tetap berguna untuk menyusun penelitian. Laporan belanja dan hasil pemilu dapat diperiksa bersama keterkenalan calon sebelum kampanye, pengalaman jabatan, serta kekuatan partainya. Dari sana kita bisa menguji apakah petahana menambah pengeluaran saat persaingan menguat, atau apakah hubungan belanja dan suara berubah menurut tingkat pengenalan awal. Belanja untuk menyampaikan informasi juga perlu dipisahkan dari pemberian imbalan kepada pemilih. Mekanisme yang dibahas Jacobson tidak memberi dasar untuk menyamakan keduanya.
Transparansi dana memungkinkan kita mengetahui siapa membiayai kampanye dan ke mana uangnya pergi. Untuk menilai kualitas persaingan, pemeriksaan itu perlu dilanjutkan hingga pengalaman pemilih. Apakah mereka mendapat kesempatan mengenal calon lain di luar nama yang sudah akrab? Jika sebagian calon tidak pernah masuk ke dalam perhatian warga, keterbukaan pencalonan saja belum menjelaskan seberapa luas pilihan yang sungguh dapat mereka pertimbangkan.
Rujukan dan catatan angka
Jacobson, Gary C. (1978). “The Effects of Campaign Spending in Congressional Elections.” American Political Science Review, 72(2), 469–491. DOI 10.2307/1954105. Sumber utama adalah PDF yang diberikan. Tabel angka dan persamaan diperiksa pada tampilan halaman aslinya.
Gerber, Alan (1998). “Estimating the Effect of Campaign Spending on Senate Election Outcomes Using Instrumental Variables.” American Political Science Review, 92(2), 401–411. DOI 10.2307/2585672. Digunakan terbatas sebagai pembanding dari abstrak penerbit.
Mahkamah Konstitusi RI (11 Oktober 2024). “Hakim Konstitusi Daniel Yusmic Bahas Implikasi Putusan MK terhadap Demokrasi Indonesia.” Sumber konteks proporsional terbuka dan penentuan calon berdasarkan suara terbanyak.
Catatan pembacaan data
Pembahasan Indonesia merupakan interpretasi dan pertanyaan lanjutan. Jacobson tidak meneliti pemilu Indonesia. Catatan sumber dan cara membaca setiap grafik tersedia di bawahnya.
Komentar
Diskusikan tulisan ini. Komentar pembaca ditampilkan setelah disetujui penulis.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.