Mundur untuk Menang
Daftar isi
Pelajaran Pemilu Hungaria 1998 tentang suara, kursi, dan keputusan untuk memberi jalan kepada sekutu
Mundur dari pemilu biasanya terdengar seperti pengakuan kalah. Seorang calon berhenti berkampanye, namanya menghilang dari persaingan, lalu kesempatan memperoleh kursi ikut lepas. Namun, dalam keadaan tertentu, justru langkah itulah yang membantu kubunya menang.
Pemilu Hungaria 1998 memperlihatkan bagaimana hal itu terjadi. Partai Sosialis Hungaria, MSZP, memperoleh 32,2 persen suara daftar partai. Fidesz, pesaing utamanya, mendapat 28,2 persen. Ketika seluruh kursi selesai dibagikan, urutannya berbalik. Fidesz membawa pulang 148 kursi, sementara MSZP memperoleh 134. Partai yang unggul dalam suara berakhir di posisi kedua dalam kursi.[1]
Keanehan ini menjadi pintu masuk penelitian Kenneth Benoit. Dalam naskah bertanggal 5 Desember 2001, ia menelusuri keputusan partai, pengunduran diri calon, dan perubahan pilihan pemilih. Ceritanya memberi alasan untuk lebih berhati-hati setiap kali kita membaca hasil pemilu hanya dari persentase suara nasional.
Satu pemilu, beberapa jalan menuju kursi
Untuk memahami hasil tadi, kita perlu mengenali aturan Hungaria saat itu. Parlemennya memiliki 386 kursi. Sebanyak 176 diperebutkan di daerah pemilihan yang masing-masing memilih satu wakil. Kursi lainnya dibagikan melalui daftar partai di tingkat wilayah dan daftar kompensasi nasional. Pemilih memberikan dua suara, satu untuk calon di daerahnya dan satu lagi untuk daftar partai.[1]
Ada satu aturan yang membuka ruang tawar-menawar. Perebutan kursi di daerah dapat berlangsung dalam dua putaran yang berjarak dua minggu. Dalam daerah dengan putaran pertama yang sah tetapi belum menghasilkan pemenang, tiga calon teratas bisa maju lagi, begitu pula calon lain yang memenuhi ambang suara 15 persen. Jadi, putaran kedua tidak selalu mempertemukan hanya dua orang. Calon yang lolos juga diperbolehkan mengundurkan diri. Untuk daerah dengan partisipasi terlalu rendah, pemungutan suara putaran pertama diulang pada putaran kedua.
Di sinilah persentase nasional kehilangan sebagian daya jelaskannya. Untuk kursi daerah, yang menentukan adalah siapa mengalahkan siapa di masing-masing tempat. Sebuah partai bisa mengumpulkan banyak suara dari calon yang tetap kalah. Pesaingnya mungkin memperoleh total suara lebih sedikit, tetapi menang di lebih banyak daerah. Sementara itu, jalur daftar dan kompensasi menambahkan lapisan perhitungan lain.
Suara dan kursi memberi urutan berbeda
Ganti ukuran untuk melihat bagaimana urutan dua partai terbesar berbalik. Suara daftar partai dan jumlah kursi ditampilkan dalam satuan masing-masing.
Lihat angka dan sumber grafik
| Partai | Suara daftar | Kursi |
|---|---|---|
| MSZP | 32,2% | 134 |
| Fidesz | 28,2% | 148 |
| FKGP | 13,8% | 48 |
| SZDSZ | 7,9% | 24 |
| MDF | 3,1% | 17 |
| MIÉP | 5,5% | 14 |
Suara daftar yang ditampilkan berjumlah 90,7% dan kursi berjumlah 385. Grafik memakai hasil keseluruhan pada Tabel 1. Tabel 3 memakai putaran daftar yang sah saja dan memiliki basis berbeda. Suara calon dari dua putaran tidak dijumlahkan dengan suara daftar.
Buka Tabel 1 di paperDua minggu yang membalikkan keadaan
Pemungutan suara berlangsung pada 10 dan 24 Mei 1998. Seusai putaran pertama, MSZP berada di peringkat teratas di 113 dari 176 daerah berwakil tunggal. Angka itu terlihat menjanjikan, tetapi peringkat pertama belum berarti kursi sudah menjadi miliknya. Sebanyak 175 kursi daerah masih akan ditentukan pada putaran kedua.[1]
Kubu pesaing menggunakan jeda dua minggu untuk menyederhanakan persaingan. Fidesz dan Forum Demokratik Hungaria, MDF, sebelumnya sudah mengusung calon bersama di 78 daerah. Kemudian, sejumlah partai bersepakat memberi jalan kepada calon sekutu yang lebih kuat. Jika dua calon dari kubu yang berdekatan sama-sama lolos, calon dengan dukungan lebih rendah dapat mundur agar suara mereka tidak terpecah.
Benoit mencatat 229 calon mengundurkan diri dari 727 calon yang berhak mengikuti putaran kedua. Dari Partai Petani Kecil Independen, FKGP, sebanyak 71 dari 116 calon yang lolos memilih mundur. Besarnya angka itu menunjukkan bahwa memberi jalan kepada sekutu telah menjadi bagian penting dari strategi pemilu, bukan sekadar keputusan pribadi beberapa calon.
Hasilnya terlihat pada perlombaan yang tersisa. Calon Fidesz, termasuk kadernya yang diusung bersama MDF, memenangi 89 kursi pada putaran kedua. MSZP memperoleh 54. Jika ditambah satu kursi yang sudah dimenangi Fidesz pada putaran pertama, partai itu akhirnya menguasai 90 kursi daerah. Keunggulan ini membantu membalikkan urutan kedua partai dalam keseluruhan parlemen.
Suara yang terpecah bisa mengubah pemenang
Bayangkan sebuah daerah dengan 1.000 pemilih. Calon A memperoleh 400 suara, B mendapat 350, dan C mendapat 250. A memimpin, meskipun sebagian besar pemilih memilih calon lain. Jika B dan C berasal dari kubu yang berdekatan, bertahan bersama dalam putaran berikutnya dapat membuat mereka kembali kalah.
Sekarang C mundur dan meminta pendukungnya memilih B. B hanya perlu memperoleh lebih dari 50 tambahan suara untuk melampaui A, dengan asumsi seluruh pendukung awal A dan B tetap memilih calon yang sama. Artinya, B tidak perlu merebut seluruh pendukung C. Dalam contoh ini, perpindahan sedikit lebih dari seperlima pendukung C sudah cukup mengubah urutan.
Seberapa banyak dukungan perlu berpindah?
Geser bagian pendukung C yang memilih B setelah C mundur. Dukungan awal A dan B dianggap tetap. Pendukung C lainnya tidak memilih pada putaran berikutnya.
Lihat asumsi simulasi
Dukungan awal berjumlah 1.000 suara. A tetap memiliki 400, B mulai dari 350, dan 250 pendukung C dibagi antara memilih B atau tidak memilih. Tidak ada pemilih baru, perpindahan ke A, atau perubahan pilihan dari pendukung awal A dan B. Jumlah suara B dihitung dari 350 ditambah bagian yang beralih dari 250 pendukung C.
Kesamaan suara pada ambang 20% ditampilkan sebagai imbang. Simulasi tidak menetapkan pemenang dari aturan pemecahan hasil imbang dan tidak menirukan seluruh aturan Hungaria.
Angka dalam simulasi ini sengaja dibuat sederhana dan bukan hasil pemilu Hungaria. Fungsinya menunjukkan mengapa calon yang sedang memimpin masih bisa kalah setelah pesaingnya mengurangi jumlah calon. Dalam pemilu sesungguhnya, pendukung calon yang mundur dapat memilih sekutunya, memilih lawan, atau tidak datang. Keputusan partai baru membuka kemungkinan; pemilih yang menentukan apakah kemungkinan itu menjadi kenyataan.
Pemilih tidak bisa dipindahkan begitu saja
Sering kali kita membicarakan koalisi seolah-olah dukungan dapat dijumlahkan tanpa hambatan. Partai pertama membawa sekian persen, partai kedua membawa sekian persen, lalu gabungannya dianggap otomatis memiliki jumlah keduanya. Paper ini justru menunjukkan mengapa hitungan semacam itu perlu diuji.
Benoit menggunakan survei pascapemilu Századvég–TÁRKI untuk melihat pilihan pada kedua putaran. Tabel yang disajikannya mencakup 775 responden. Di antara responden yang mengaku memilih FKGP pada putaran pertama, 51,8 persen tetap memilih FKGP pada putaran kedua dan 44,7 persen beralih ke Fidesz. Persentasenya sudah diberi bobot, sehingga tidak sama persis dengan pembagian jumlah responden mentah.[1]
Dari mana angka 93 persen yang dibahas Benoit berasal? Perhitungannya mengecualikan mereka yang tetap memilih FKGP. Di antara kelompok yang berganti pilihan, sekitar 93 persen memilih Fidesz. Jadi, 44,7 persen dan 93 persen menjelaskan perpindahan yang sama dengan penyebut berbeda. Yang pertama menghitung seluruh pemilih awal FKGP dalam survei; yang kedua hanya menghitung mereka yang meninggalkan pilihan awalnya.
Angka berubah ketika penyebutnya berubah
Pilih kelompok pemilih awal. Lalu bandingkan seluruh kelompok dengan hanya mereka yang berganti pilihan pada putaran kedua.
Penyebut 100% dari kelompok awal. Persentase sudah berbobot.
Lihat angka dan cara menghitung
| Pilihan awal | N | Ke Fidesz | Tetap |
|---|---|---|---|
| FKGP | 68 | 44,7% | 51,8% |
| SZDSZ | 53 | 25,7% | 44,2% |
Untuk FKGP, persentase yang berganti pilihan adalah 100 dikurangi 51,8, yaitu 48,2. Bagian yang beralih ke Fidesz adalah 44,7 dibagi 48,2, sekitar 92,7%. Itu angka yang dibulatkan Benoit menjadi 93%. N adalah jumlah responden awal tanpa bobot; persentase berbobot tidak dikonversi menjadi jumlah orang.
Untuk SZDSZ, 25,7% memilih Fidesz, 30,1% memilih MSZP, dan 44,2% tetap memilih SZDSZ. Pada tampilan yang berganti pilihan, penyebutnya menjadi 55,8% dari kelompok awal.
Buka Tabel 7 di paperHubungan sekutu dalam pemerintahan juga tidak menjamin perpindahan suara berjalan mulus. Dari responden yang semula memilih Aliansi Demokrat Bebas, SZDSZ, sebanyak 30,1 persen beralih ke MSZP, tetapi 25,7 persen justru memilih Fidesz. Sisanya, 44,2 persen, tetap memilih SZDSZ. Kesepakatan elite perlu bertemu dengan alasan yang masuk akal bagi pemilih, dan alasan itu dapat berbeda antarpartai.
Hasil survei ini memberi petunjuk tentang perubahan pilihan, tetapi tidak menjelaskan seluruh penyebabnya. Kita belum bisa menyimpulkan bahwa setiap perpindahan terjadi karena instruksi pemimpin partai. Kedekatan politik, penilaian terhadap calon, serta keinginan mengganti pemerintah mungkin ikut berperan. Kelompok responden untuk masing-masing partai pun jauh lebih kecil daripada jumlah sampel keseluruhan.
Partai belajar menggunakan aturan
Hungaria baru menjalani pemilu demokratis ketiganya sejak transisi pada 1989. Karena itu, temuan Benoit menarik sebagai cerita tentang proses belajar. Partai mampu membaca aturan yang rumit, mencari mitra, dan mengatur pencalonan. Sejumlah pemilih juga menunjukkan bahwa mereka dapat menyesuaikan pilihan ketika persaingan berubah. Belajar di sini tidak selalu berarti menjadi semakin terampil berpidato atau berkampanye. Ada pengetahuan yang lebih sunyi, seperti mengenali daerah tempat sekutu lebih berpeluang, menerima bahwa calon sendiri perlu mundur, lalu menjelaskan keputusan tersebut kepada pendukung. Strategi semacam ini membutuhkan disiplin organisasi. Kesepakatan di tingkat pimpinan akan sulit bekerja jika calon di daerah menolak mengikutinya.
Koordinasi itu juga membantu menjelaskan mengapa persaingan mengelompok di sekitar dua kubu besar, meskipun beberapa partai tetap memperoleh kursi. Namun, pengelompokan pada 1998 bukan bukti bahwa Hungaria selamanya hanya akan memiliki dua partai. Paper ini adalah kajian atas satu fase sejarah, bukan gambaran aturan dan keadaan politik Hungaria hari ini.
Membacanya dari Indonesia
Bagi pembaca Indonesia, pelajaran yang paling berguna adalah kebiasaan memeriksa bagaimana suara berubah menjadi kemenangan. Ketika melihat persentase dukungan sebuah partai, kita juga perlu melihat daerah tempat suara itu terkumpul, lawan yang dihadapi, serta aturan yang dipakai untuk menentukan pemenang. Persentase nasional memberi gambaran besar, tetapi belum tentu menjawab pertanyaan di tingkat daerah.
Perbandingannya tetap perlu dibatasi. Pemilu DPR Indonesia 2024 menggunakan sistem proporsional terbuka dan satu daerah pemilihan dapat memilih beberapa wakil. Itu berbeda dari perebutan satu kursi melalui dua putaran yang dibahas Benoit.[2] Mengundurkan calon di Hungaria karena itu tidak bisa langsung dijadikan resep untuk pemilu legislatif Indonesia.
Yang dapat dibawa pulang adalah pertanyaan tentang koordinasi. Kapan kerja sama partai mengurangi perpecahan dukungan? Seberapa jauh pendukung bersedia mengikuti perubahan arah? Apakah keputusan yang dianggap menguntungkan oleh pimpinan juga dipahami oleh pemilih? Kasus Hungaria memberi cara untuk menyusun pertanyaan tersebut, sementara jawabannya untuk Indonesia membutuhkan penelitian tersendiri.
Ada pula persoalan yang pantas diperdebatkan. Mengurangi jumlah calon dapat membuat sebuah kubu lebih mudah menang, tetapi pilihan di surat suara ikut menyempit. Apabila keputusan itu lahir dari perundingan antarpimpinan, seberapa besar ruang pemilih untuk memengaruhinya? Efektivitas strategi dan mutu keterwakilan perlu diperiksa dengan ukuran masing-masing. Paper ini membantu memahami cara strategi bekerja, tetapi belum menuntaskan penilaian atas kualitas demokrasinya.
Yang kalah dalam hitungan suara bisa menang dalam kursi
Kekuatan penelitian Benoit terletak pada kemampuannya menghubungkan hasil akhir yang membingungkan dengan keputusan konkret di antara dua hari pemungutan suara. Ia membaca hasil per daerah, pencalonan bersama, calon yang mundur, dan survei perubahan pilihan. Meski demikian, kajian observasional ini tidak menghitung secara pasti berapa kursi yang semata-mata disebabkan oleh pengunduran diri calon.
Satu pertanyaan pun tersisa ketika kita kembali menatap hasil pemilu. Jika kerja sama dapat mengubah pemenang tanpa membuat sebuah partai menjadi yang paling populer secara nasional, apa sebenarnya yang sedang kita ukur saat menyebut suatu partai menang? Dalam Hungaria 1998, jawabannya terletak pada kursi yang dimenangkan di bawah aturan tertentu, dengan bantuan sekutu dan keputusan pemilih yang bersedia berganti pilihan.
Kadang-kadang, jalan ke kursi itu dibuka oleh seseorang yang memilih memberi jalan.
Rujukan dan catatan angka
Sumber utama merupakan naskah yang diunggah pengguna. Angka di artikel memakai Tabel 1, 2, 4, 5, dan 7 serta pembahasan pada halaman tercetak 4–18. Naskah ini tercantum sebagai manuscript pada daftar publikasi penulis.
Dipakai untuk menjelaskan sistem proporsional terbuka dalam konteks Pemilu Indonesia 2024.
Catatan pembacaan data
- Grafik suara dan kursi memakai hasil keseluruhan dalam Tabel 1, bukan Tabel 3 yang hanya mencakup pemungutan suara daftar pada putaran yang sah dan menghasilkan persentase berbeda. Suara daftar partai tidak dijumlahkan dengan suara calon dari dua putaran.
- Persentase suara Tabel 1 dibulatkan satu desimal dalam sumber. Grafik kursi memakai jumlah kursi, bukan menyalin persentase kursi yang dicetak pada tabel. Enam partai yang memperoleh kursi ditampilkan; satu kursi calon independen dan suara partai tanpa kursi tidak termasuk dalam grafik.
- Angka 229 calon mundur konsisten antara uraian paper, Tabel 9, dan penjumlahan baris partai pada Tabel 5. Beberapa baris total dan frekuensi dalam Tabel 5 dan 9 tidak cocok dengan rincian atau tabel lain. Total yang bermasalah itu tidak dipakai sebagai dasar grafik.
- Survei memakai persentase berbobot yang sudah dibulatkan. Angka sekitar 93 persen diperoleh dari 44,7 dibagi 100 dikurangi 51,8. Sampel awal FKGP berjumlah 68 responden dan SZDSZ berjumlah 53 responden; persentase tidak dikalikan kembali menjadi jumlah orang. Paper tidak menyajikan interval kepercayaan untuk perpindahan ini.
- Simulasi menggunakan calon dan angka rekaan untuk memperlihatkan mekanisme. Dukungan awal A dan B dianggap tetap, C mundur, dan pendukung C yang tidak beralih ke B dianggap tidak memilih pada putaran berikutnya. Hasilnya bukan prediksi, estimasi efek, atau rekonstruksi daerah tertentu.
Komentar
Diskusikan tulisan ini. Komentar pembaca ditampilkan setelah disetujui penulis.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.