Muhammad Habibi Muhammad Habibi
Ads go here

Ke Mana Uang Negara Mengalir pada 2026?

Ke Mana Uang Negara Mengalir pada 2026?
Daftar isi

APBN 2026 mengubah prioritas dan jalur belanja, terutama program gizi serta hubungan pusat dan daerah. Membacanya perlu membedakan rencana, realisasi, dan manfaat yang benar-benar sampai ke warga.

Ilustrasi konseptual dibuat dengan bantuan AI. Aliran dan jumlah keping tidak mewakili proporsi anggaran.

Kondisi ruang kelas, obat di puskesmas, dan saluran air di lingkungan bergantung pada keputusan anggaran. Di balik angka nasional, ada pilihan tentang kebutuhan mana yang didahulukan dan siapa yang mengerjakannya.

APBN, singkatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, menunjukkan pilihan pemerintah itu. Membacanya membantu kita menagih manfaat yang dijanjikan dari uang publik.

Kajian LAB 45 karya Radhityana Muhammad dan Nadia Restu Utami, Arah dan Agenda Pembangunan Berdasarkan APBN 2026, mengajak pembaca melihat pilihan itu. Perhatian mereka tertuju pada penerimaan negara, pergeseran belanja ke pemerintah pusat, dan besarnya tempat yang diberikan kepada program gizi dalam anggaran pendidikan.[1]

Agar kritiknya tepat sasaran, ikuti aliran dana dan bandingkan angka dengan cakupan yang sama.

Belanja naik, apa yang berubah?

Dalam desain awal APBN 2026, belanja negara direncanakan sekitar Rp3.842,7 triliun. Pendapatannya sekitar Rp3.153,6 triliun. Selisih keduanya menghasilkan defisit sekitar Rp689,1 triliun.[2] Untuk membaca angka ini, mulailah dengan membedakan rencana dari hasil pelaksanaan.

Rencana adalah sasaran pengumpulan dan penggunaan uang. Realisasi adalah pelaksanaan yang tercatat pada waktu tertentu. Kenaikan rencana belum menunjukkan bahwa uang sudah habis dibelanjakan atau manfaatnya diterima.

Visual 01 / Pendapatan dan belanjaNominal · Rp triliun

Bedakan target tahun depan dari hasil tahun sebelumnya

Pilih tahap anggaran. Skala batang tetap 0–4.000 triliun agar perpindahan panel tidak membesar-besarkan perubahan.

Selisih belanja dan pendapatan

Periksa seluruh angka
Rencana 2025 dari [1], halaman 3; realisasi sementara 2025 dari [4], diumumkan Januari 2026; rencana 2026 dari [2]. Bukan seri realisasi tiga tahun.

Pilihan pembanding juga mengubah cara kita menceritakan kenaikan. Rencana belanja 2026 sekitar 6,1% di atas rencana awal 2025. Dibandingkan realisasi sementara 2025, kenaikannya sekitar 11,3%. Kedua hitungan itu menjawab pertanyaan yang berbeda.

Setelah mengetahui jumlahnya, periksa perubahan layanan, pembagian kewenangan, dan kesiapan program. Dari sana kenaikan belanja dapat dinilai artinya.

Lebih banyak lewat pusat, lebih sedikit melalui transfer

Dua jalur besarnya ialah belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah atau TKD. Keduanya dapat memberi manfaat di daerah; yang berbeda ialah jalur pengelolaan dan kewenangannya. [2]

Dalam perbandingan rencana 2025 dan 2026, porsi TKD mengecil dari sekitar 25,4% menjadi 18,0% dari belanja negara. Secara nominal, rencananya turun dari Rp919,9 triliun menjadi sekitar Rp693,0 triliun. Pada saat yang sama, rencana belanja pusat meningkat.[1][2]

Visual 02 / Setiap Rp100 belanjaRencana dibanding rencana

Porsi pengelolaan melalui transfer ke daerah menyusut

Ilustrasi proporsi. Setiap kotak mendekati Rp1 dari Rp100 belanja; kotak dibulatkan ke bilangan utuh, angka di samping memakai hitungan satu desimal.

Dihitung dari rencana [1] dan [2]. Angka proporsi bukan hak dana per orang atau per daerah. TKD 2026 dibulatkan menurut nominal UU.

Ketika kegiatan berpindah dari dana transfer ke program pusat, kabupaten tetap mungkin menerima manfaat. Namun, kewenangan daerah memilih prioritas atau menyesuaikan pelaksanaan dapat berubah.

Perubahan itu perlu diikuti kejelasan: siapa dapat mengubah kegiatan, siapa menjawab keterlambatan, dan siapa memelihara fasilitas setelah dibangun?

Karena itu, turunnya TKD belum menghitung seluruh manfaat bagi daerah. Program pusat pun perlu ditelusuri lokasi dan penerimanya sebelum disebut menjawab kebutuhan setempat.

Uang yang dibelanjakan pemerintah pusat dapat sampai ke daerah. Yang berubah adalah jalur keputusan dan pertanggungjawabannya.

Dari mana uangnya dikumpulkan?

Penerimaan pajak berbeda dari penerimaan perpajakan. Kelompok kedua lebih luas karena mencakup kepabeanan dan cukai. Menukar keduanya dapat membesar-besarkan kenaikan target.

Perbedaan itu berpengaruh pada kesimpulan kajian yang sedang kita baca. Angka Rp1.917,6 triliun untuk 2025 adalah penerimaan pajak, sedangkan realisasi sementara perpajakannya Rp2.217,9 triliun setelah menambahkan kepabeanan dan cukai Rp300,3 triliun.[4] Karena target 2026 yang dibandingkan adalah perpajakan, dasar 2025 juga harus perpajakan.

Visual 03 / Cakupan yang samaAngka diperiksa

Target perpajakan naik sekitar 21,5% dari realisasi sementara 2025

Pilih untuk melihat komponen 2025 atau perbandingan target. Jumlah yang dibandingkan harus mencakup jenis penerimaan yang sama.

Mengapa artikel ini tidak memakai angka kenaikan 40%?

Di halaman 3–4 kajian, Rp1.917,6 triliun ditempatkan sebagai perpajakan 2025. Membandingkannya dengan target perpajakan Rp2.693,7 triliun akan menghasilkan sekitar 40,5%, tetapi cakupannya berbeda. Dengan dasar Rp2.217,9 triliun, hitungannya menjadi sekitar 21,5%. Artikel ini memakai cakupan yang sebanding.

Realisasi sementara 2025 dari [4]; target 2026 dari [2]. Pertumbuhan dihitung ulang oleh penulis. Nilai nominal, bukan bukti perubahan daya beli atau kenaikan tarif pajak.

Target penerimaan yang lebih tinggi tidak berarti semua tarif pajak naik sebesar persentase yang sama. Kegiatan ekonomi, kepatuhan, administrasi, dan pengembalian pajak juga memengaruhi penerimaan.

Daya beli perlu diperiksa melalui konsumsi, harga, dan pendapatan rumah tangga. Satu total penerimaan belum menjelaskannya.

Program gizi mendapat tempat sangat besar

Salah satu temuan yang segera terlihat dalam kajian adalah posisi Badan Gizi Nasional atau BGN. Pagu yang ditampilkan sebesar Rp268 triliun, di atas Kementerian Pertahanan dan Polri.[1] Posisi itu menunjukkan besarnya sumber daya yang dialokasikan kepada lembaga pelaksana program gizi.

Visual 04 / Pagu organisasiRencana dalam kajian

BGN menempati urutan teratas pada daftar ini

Enam dari sebelas pagu terbesar yang ditampilkan kajian. Pilih batang atau buka seluruh daftar. Skala tetap 0–300 triliun.

Lihat tabel angka dan nama lengkap
[1], halaman 9 dan lampiran halaman 14. Satuan Rp triliun, bukan persentase seluruh APBN. Pagu organisasi berbeda dari anggaran program yang dapat tersebar lintas lembaga.

Pagu besar menunjukkan prioritas sumber daya. Untuk menilai pelaksanaannya, kita masih perlu mengetahui penerima, pengadaan, dan hasil program; motif politik tidak dapat dibuktikan dari tabel pagu saja.

Dalam program gizi, pertanyaannya sampai pada makanan yang diterima: siapa terjangkau, bagaimana keamanannya dijaga, apakah pengadaan terbuka, dan bagaimana wilayah berbiaya distribusi tinggi dilayani?

Jenis belanja pun belum menentukan mutu. Makanan, obat, tenaga pelayanan, dan bangunan dapat saling melengkapi. Nilainya bergantung pada kebutuhan, harga, dan hasil.

Anggaran pendidikan naik, susunannya ikut berubah

Anggaran pendidikan awal 2026 sekitar Rp769,1 triliun. Jumlah ini mencakup belanja pusat, TKD, dan pembiayaan, sehingga lebih luas daripada anggaran kementerian pendidikan saja. [2]

Di dalam belanja pusat untuk pendidikan terdapat sekitar Rp223,6 triliun pada BGN. Bagian ini setara sekitar 47,5% dari pendidikan melalui pusat, atau 29,1% dari keseluruhan anggaran pendidikan.[3] Kedua persentase benar apabila penyebutnya disebutkan.

Visual 05 / Komposisi pendidikanAlokasi · BGN bagian pusat

Total bertambah, porsi antarjalur bergeser

BGN ditampilkan sebagai bagian dari belanja pusat. Pilih nilai rupiah atau komposisi, lalu pilih komponen untuk membaca perubahannya.

Lihat tabel angka
Alokasi 2025 dari [1], halaman 11; rincian 2026 dicocokkan dengan [3], Lampiran VI. Angka BGN yang dipakai Rp223,56 T sesuai tabel dan Perpres, menggantikan Rp233,6 T pada narasi sumber. Pembiayaan tidak seluruhnya merupakan belanja layanan tahun berjalan.

Total pendidikan meningkat, tetapi pertambahan BGN lebih cepat daripada bagian pusat lain dan alokasi melalui TKD turun. Layanan yang dibiayai tiap jalur dapat mengalami perubahan berbeda.

Kritik LAB 45 menyoroti keseimbangan kebutuhan. Gizi, guru, buku, dan ruang kelas sama-sama diperlukan. Tambahan besar pada satu pos perlu disertai penjelasan bagaimana kebutuhan lain tetap dipenuhi. [1]

Untuk membandingkan manfaat, periksa hasil kesehatan, kehadiran, pembelajaran, dan biaya program. Besarnya alokasi saja belum menentukan program mana yang lebih berguna.

Satu pos hilang, belum tentu seluruh kegiatan berhenti

Di dalam pendidikan melalui TKD pun arahnya tidak seragam. Sebagian alokasi turun, sedangkan komponen lain bertambah. Lihat dua tahun pada kategori yang sama, lalu perhatikan seberapa luas kegiatan yang dicakupnya.

Visual 06 / Pendidikan melalui daerahJangan jumlahkan subkomponen

Perubahan satu kategori tidak mewakili semuanya

Pilih kategori. BOSP dan tunjangan guru berada di dalam DAK nonfisik; angka-angka ini tidak dijumlahkan. Skala menyesuaikan kategori yang dipilih.

Lihat semua kategori dalam tabel
2025 dari [1], halaman 11; 2026 dari [3], Lampiran VI. Pos DAK Fisik pendidikan tidak tercantum pada rincian 2026; DAK pendidikan dalam lampiran dialokasikan melalui nonfisik.

Pos DAK Fisik pendidikan tidak tercantum dalam rincian 2026. Ini perubahan jalur anggaran, belum bukti bahwa seluruh pembangunan dan perbaikan sekolah berhenti.

Kemendikdasmen, misalnya, mengumumkan alokasi Rp14,57 triliun untuk pembangunan dan revitalisasi satuan pendidikan dalam pagunya pada 2026.[5] Ini menunjukkan adanya jalur lain melalui kementerian pusat. Angka tersebut sudah merupakan bagian dari anggaran kementerian, sehingga tidak ditambahkan lagi ke total pendidikan.

Apakah perpindahan jalur mempercepat perbaikan sekolah? Jawabannya memerlukan lokasi, kondisi bangunan, jadwal, kontrak, dan hasil pekerjaan. Total nasional belum menjawab kebutuhan satu sekolah.

Bagaimana dengan dapur gizi dan stunting?

Kajian juga mempertanyakan sebaran SPPG, atau satuan pelayanan pemenuhan gizi. Jumlah dapur dan persentase stunting saja belum cukup mengukur pemerataan. Penilaian perlu memperhatikan jumlah sasaran yang memenuhi kriteria program, kapasitas layanan, jarak, kebutuhan gizi, dan tanggal data. Artikel ini tidak menebak titik angka dari grafik sebaran dalam PDF.

Bagaimana jika penerimaan tidak mencapai rencana?

Jika pendapatan lebih rendah sementara belanja tetap, selisih pembiayaan membesar. Simulasi berikut menunjukkan hubungan hitungannya, bukan meramalkan realisasi anggaran.

Visual 07 / Mencoba skenarioSimulasi · bukan proyeksi

Dengan belanja tetap, kekurangan penerimaan memperbesar selisih

Dasarnya desain awal APBN 2026. Geser persentase kekurangan dari target seluruh pendapatan. Simulasi tidak memperkirakan apa yang akan terjadi.

0%
Pendapatan skenario
Selisih terhadap belanja
Dihitung dari [2]. Asumsi belanja tetap; pendapatan dikurangi proporsional. Tidak memodelkan respons kebijakan, PDB, inflasi, atau kebutuhan penerbitan utang. Selisih anggaran bukan seluruh pembiayaan utang bruto.

Pemerintah dapat mengubah waktu dan prioritas belanja, penerimaan, atau pembiayaan. Hasil simulasi tidak menyatakan defisit yang sudah terjadi.

Defisit juga berbeda dari total penerbitan utang. Ada pembayaran pokok utang lama dan komponen pembiayaan lain yang perlu dilihat dalam rincian tersendiri.

Rancangan APBN 2026 memperlihatkan prioritas gizi yang besar dan pergeseran jalur pusat–daerah. Keduanya perlu dinilai sampai pada pelaksanaan, bukan berhenti pada peringkat alokasi.

Warga dapat menagih jawaban yang konkret: sekolah mana membaik, siapa menerima layanan, dan berapa biaya untuk mencapainya? Itulah ujung penelusuran angka anggaran.

Rujukan dan catatan angka

  1. Artikel ini merupakan pembacaan populer atas kajian, disertai pemeriksaan angka. Tafsiran penulis kajian, perhitungan artikel, dan skenario dipisahkan.

  2. [1] Kajian yang dibaca

    Muhammad, R., & Utami, N. R. (2026). Arah dan Agenda Pembangunan Berdasarkan APBN 2026. LAB 45.

    Naskah sumber, 15 halaman. Terbit pada laman LAB 45 tanggal 16 Maret 2026. Halaman 3–4 membahas penerimaan; 6–7 postur belanja; 9–10 kementerian/lembaga; 11 pendidikan; 13 sebaran SPPG; 14 lampiran. Halaman dihitung mulai sampul.

  3. [2] Postur anggaran yang ditetapkan

    Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2025 tentang APBN Tahun Anggaran 2026.

    Pasal 3–9 untuk pendapatan dan belanja, serta Pasal 22 untuk anggaran pendidikan. Nominal penuh dikonversi ke triliun dan dibulatkan pada tampilan.

    Buka dokumen resmi ↗
  4. [3] Rincian pendidikan

    Peraturan Presiden Nomor 118 Tahun 2025, Lampiran VI.

    Rincian anggaran pendidikan 2026. Pada berkas gabungan 1.741 halaman di JDIH Kemenkeu, Lampiran VI berada di halaman PDF 1.738–1.739. Angka tabel diperiksa pada citra halaman untuk menghindari kekeliruan ekstraksi teks.

    Buka Perpres dan lampiran ↗
  5. [4] Dasar realisasi sementara 2025

    DJSEF Kementerian Keuangan. (2026). Menkeu: APBN 2025 Tunjukkan Kinerja yang Solid.

    Berita 9 Januari 2026 tentang paparan 8 Januari. Dipakai untuk nominal pendapatan, belanja, perpajakan, pajak, dan kepabeanan/cukai. Persentase yang tidak konsisten dengan nominal pembanding pada berita tidak disalin.

    Baca rilis penerimaan ↗
  6. [5] Jalur pembangunan sekolah melalui pusat

    Kemendikdasmen. (2025). Mendikdasmen Paparkan Pagu Anggaran 2026, Perkuat Program Prioritas Pendidikan.

    Siaran pers 26 November 2025. Memuat pagu Rp56,68 triliun dan program pembangunan serta revitalisasi satuan pendidikan Rp14,57 triliun di dalam pagu itu.

    Baca rincian program ↗
Catatan pembacaan data

Istilah yang sering muncul

APBN, RAPBN, outlook, dan realisasi

RAPBN adalah rancangan. APBN adalah rencana anggaran yang disetujui. Outlook adalah perkiraan perkembangan pelaksanaan. Realisasi adalah hasil yang tercatat pada waktu tertentu. Keempatnya perlu dibedakan ketika membandingkan angka.

Belanja pusat dan transfer ke daerah

Belanja pusat berada pada pengelolaan pemerintah pusat, meskipun kegiatan dan penerima manfaat dapat berada di daerah. TKD disalurkan kepada daerah untuk dikelola sesuai ketentuan.

DAU, DBH, dan DAK

DAU berarti Dana Alokasi Umum; DBH berarti Dana Bagi Hasil; DAK berarti Dana Alokasi Khusus. Ketiganya berada dalam kelompok transfer ke daerah, dengan pengaturan dan peruntukan yang berbeda.

Pagu, keluaran, dan hasil

Pagu adalah batas alokasi. Keluaran adalah layanan atau barang yang dihasilkan. Hasil adalah perubahan yang dituju, misalnya peningkatan kemampuan belajar. Pagu besar tidak dengan sendirinya membuktikan hasil yang baik.

Nominal dan riil

Perbandingan nominal memakai angka rupiah sebagaimana tercatat. Perbandingan riil menyesuaikan perubahan harga. Angka dalam artikel ini nominal.

Selisih atau defisit anggaran

Defisit terjadi ketika belanja lebih besar daripada pendapatan. Membaca cara menutupnya memerlukan rincian pembiayaan; angka defisit saja tidak menjelaskan seluruh penerbitan atau posisi utang.

Catatan koreksi dan batas pembacaan
  • Perpajakan 2025 yang dipakai Rp2.217,9 T, bukan Rp1.917,6 T. Dengan cakupan yang sama, kenaikan target 2026 sekitar 21,5%, bukan sekitar 40%.
  • Angka BGN dalam pendidikan dipakai Rp223,56 T sesuai tabel kajian dan Lampiran VI. Narasi sumber yang menyebut Rp233,6 T tidak diikuti.
  • Angka TKD 2026 dibulatkan dari nominal UU menjadi Rp693,0 T. Beberapa tabel kajian menuliskan Rp692,9 T. Perbedaan kecil tidak mengubah arah perbandingan.
  • Perbandingan pusat–daerah memakai rencana terhadap rencana. Realisasi 2025 disediakan terpisah dan diberi label sementara.
  • Pendidikan, kementerian/lembaga, dan jenis belanja adalah cara pengelompokan yang dapat bertumpang tindih. Angka dari pengelompokan berbeda tidak ditambahkan begitu saja.
  • Penghapusan pos DAK Fisik pendidikan tidak disamakan dengan penghapusan seluruh pembangunan atau perbaikan sekolah.
  • Rincian sekolah, penerima gizi, dan sebaran dapur tidak direkonstruksi dari grafik tanpa tabel data. Klaim efektivitas, motif, dan sebab-akibat membutuhkan bukti tambahan.
  • Artikel membahas desain awal anggaran. Ia tidak memutakhirkan seluruh perubahan anggaran atau realisasi setelah Maret 2026, dan tidak membuat kesimpulan hukum tentang konstitusionalitas MBG.

Paket dapat dibaca tanpa internet. Sumber eksternal tetap membutuhkan koneksi. Data memuat angka yang dipakai, definisi, koreksi, serta asal setiap kelompok nilai.

Komentar

Ikuti tulisan berikutnya

Dapatkan kabar artikel baru melalui email jika Anda memilih berlangganan.

Pilih langganan email

Komentar

Diskusikan tulisan ini. Komentar pembaca ditampilkan setelah disetujui penulis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Bagikan artikel

Ke Mana Uang Negara Mengalir pada 2026?

WhatsAppFacebookXTelegramLinkedIn

Tampilan bacaan

Sesuaikan lebar tulisan dan kolom samping.

Cari

Cari artikel berdasarkan topik, kategori, atau kata kunci.