Dua Tahun Pemerintahan, Apa yang Dirasakan Warga? Langsung ke artikel Membaca pemerintahan · 01 / Rapor CELIOS 2026 Dua tahun pemerintahan, apa yang dirasakan warga? Nilai presiden bisa menjadi berita. Tetapi harga belanja, kesempatan bekerja, dan pengalaman mendapat layanan menjelaskan mengapa orang memberi nilai itu. Mari membaca rapor pemerintah dengan lebih dekat. 15 Oktober 2026 · Sekitar 12 menit baca · 7 visual interaktif Diolah dari laporan CELIOS, Rapor Kinerja 2 Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran (2026). Ilustrasi editorial dibuat dengan bantuan AI. Gambar bersifat konseptual, bukan dokumentasi kegiatan atau gambaran responden survei. Apa tanda bahwa sebuah pemerintahan bekerja dengan baik? Jawabannya bisa sangat dekat dengan keseharian: uang belanja terasa cukup, pekerjaan lebih mudah ditemukan, dan urusan pelayanan tidak berputar-putar. Itulah pintu masuk untuk membaca laporan CELIOS ini. Dokumen tersebut menggabungkan survei masyarakat, survei ahli, dan telaah sektoral oleh tim yang disebut Kabinet Bayangan. Nadanya kritis terhadap pemerintah. Namun, manfaat membacanya tidak berhenti pada setuju atau tidak setuju dengan kesimpulannya. Kita bisa memeriksa pertanyaan yang diajukan, pengalaman yang terekam, dan bukti tambahan yang masih dibutuhkan. Hal pertama yang perlu dijernihkan adalah arti kata rapor. Ini merupakan evaluasi yang disusun lembaga penelitian independen, bukan nilai resmi negara. Sebagian besar angka yang dibahas di sini menggambarkan persepsi responden: penilaian dan pengalaman orang yang mengikuti survei. Angka itu belum sama dengan pengukuran langsung atas perubahan kemiskinan, pengangguran, atau mutu layanan. Kenali sumbernya dahulu Siapa yang memberi penilaian? 1.142 RESPONDEN MASYARAKAT Direkrut melalui Meta Ads menggunakan sampel nonprobabilitas, lalu diberi bobot untuk menyesuaikan komposisi sampel dengan acuan populasi. Tidak setiap penduduk memiliki peluang terpilih yang diketahui. 129 RESPONDEN AHLI Dijangkau dengan snowball sampling: ahli yang sudah ikut membantu merekomendasikan ahli lain. Hasilnya menggambarkan kelompok ahli yang terjangkau, bukan seluruh ahli di Indonesia. 15 SEPTEMBER–9 OKTOBER 2026 Periode pengumpulan data menurut laporan. Judul “dua tahun” adalah bingkai evaluasinya; surveinya merupakan potret pada periode tersebut, bukan pemantauan setiap hari selama dua tahun. Pembobotan dapat membantu menyesuaikan komposisi sampel, tetapi tidak otomatis menghapus bias dari siapa yang melihat iklan dan bersedia menjawab. Karena itu, artikel ini menyebut “responden survei”, bukan “seluruh rakyat Indonesia”. [1, hlm. 3–5] Laporan menyampaikan hasil uji konsistensi instrumen yang tinggi. Ini berguna untuk menilai apakah pertanyaan mengukur sesuatu secara selaras. Namun, konsistensi pertanyaan dan keterwakilan sampel adalah dua urusan yang berbeda. Kuesioner yang konsisten tetap dapat menjangkau kelompok yang tidak sepenuhnya mencerminkan penduduk. Nilainya berbeda. Apa yang boleh kita simpulkan? Dalam survei ini, rata-rata penilaian masyarakat terhadap Prabowo adalah 4,6 dari 10; ahli memberi 2,8. Untuk Gibran, nilainya masing-masing 4,9 dan 2,2. Kabinet secara keseluruhan memperoleh 4,7 dari masyarakat dan 2,9 dari ahli.[1, hlm. 7–10] Visual 01 · Bandingkan penilaian Dua kelompok melihat kinerja secara berbeda Pilih pihak yang dinilai. Angka adalah rata-rata pada skala 1–10, bukan persentase kepuasan. PresidenWakil presidenKabinet 1 · Penilaian terendah10 · Penilaian tertinggi CELIOS 2026, hlm. 7–10; masyarakat N=1.142, ahli N=129. Dua sampel terpisah; selisih dihitung dari rata-rata yang sudah dibulatkan dalam laporan. Selisih ini tidak diuji signifikansinya di artikel. Perbedaan itu menunjukkan bahwa dua kelompok yang disurvei memberi penilaian berbeda. Kita belum bisa menyatakan penyebabnya. Mungkin pengalaman, informasi, atau tolok ukur mereka berbeda, tetapi untuk memastikan diperlukan analisis jawaban dan profil responden. Nilai 4,6 juga tidak boleh diterjemahkan menjadi “46 persen masyarakat puas”. Rata-rata skor dan persentase orang yang puas berasal dari perhitungan berbeda. Seperti nilai rata-rata kelas, angka yang sama bisa terbentuk dari susunan jawaban yang beragam. Di balik nilai, ada urusan rumah tangga Bagian yang paling dekat dengan pembaca adalah ekonomi sehari-hari. Sebanyak 53% responden merasa ekonomi rumah tangganya lebih buruk daripada setahun sebelumnya; 31% merasa sama saja; dan 16% merasa lebih baik. Pada pertanyaan lain, 82% merasa pajak dan pungutan terlalu berat.[1, hlm. 47–48] Visual 02 · Dekat dengan keseharian Bagaimana ekonomi rumah tangga dirasakan? Setiap kotak mewakili satu poin persentase. Pilih jawaban untuk melihat proporsinya. Lebih burukSama sajaLebih baik 100 kotak menyederhanakan proporsi untuk dibaca; kotak-kotak ini tidak menggambarkan 100 responden tertentu. CELIOS 2026, Gambar 26, hlm. 48; survei masyarakat N=1.142. Pertanyaan membandingkan ekonomi rumah tangga dengan setahun lalu. Temuan tentang pekerjaan juga mengarah pada penilaian negatif: 24% menjawab sangat buruk dan 38% menjawab buruk ketika menilai kebijakan mengatasi pengangguran dan membuka pekerjaan. Gabungannya 62%. Angka ini adalah penilaian atas kebijakan, bukan tingkat pengangguran Indonesia.[1, hlm. 47] Pengalaman rumah tangga memberi petunjuk tentang beban yang dirasakan. Namun, survei ini saja belum dapat memastikan seberapa besar perubahan ekonomi disebabkan kebijakan pemerintah. Pendapatan keluarga, biaya hidup, kondisi usaha, dan keadaan ekonomi yang lebih luas perlu diperiksa bersama. Harga dan pekerjaan ingin didahulukan Ketika diminta memilih tiga hal yang harus segera diperbaiki, 78% responden memilih harga kebutuhan pokok, disusul lapangan kerja dan perlindungan pekerja sebesar 58%. Penegakan hukum dan reformasi birokrasi dipilih 35%.[1, hlm. 49] Visual 03 · Urutan kebutuhan Apa yang mendesak bagi responden? Bandingkan proporsi yang memilih setiap isu. Pilih satu isu untuk membaca hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Sorot isu CELIOS 2026, Gambar 27, hlm. 49; masyarakat N=1.142. Responden diminta memilih tiga isu, sehingga persentase antarisu tidak dijumlahkan menjadi 100%. Urutan di sini disusun menurut angka, termasuk bansos 28% di atas kesehatan 27%. Daftar ini membantu memahami apa yang menonjol dalam jawaban responden. Tetapi isu dengan persentase kecil tidak otomatis kurang penting secara kebijakan. Lingkungan, misalnya, dapat memengaruhi kesehatan dan pendapatan dalam jangka panjang meskipun tidak dipilih sebanyak harga pangan. Bagi pemerintah, pertanyaan lanjutannya menjadi konkret: kebijakan apa yang bisa meringankan pengeluaran warga, memperbaiki kualitas pekerjaan, dan membuat layanan lebih dapat dipercaya? Jawabannya perlu dilengkapi data harga, pendapatan, ketenagakerjaan, serta pelaksanaan program. Program besar perlu diuji dari manfaatnya Program Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu perhatian utama laporan. Dalam survei masyarakat, 76% responden setuju program dihentikan, 18% tidak setuju, dan 6% tidak tahu. Sementara itu, ahli mendapat pilihan yang lebih terperinci: melanjutkan dengan perbaikan, mempersempit cakupan, menghentikan sementara, atau menghentikan sepenuhnya.[1, hlm. 34–35] Visual 04 · Perhatikan bunyi pertanyaan Sama-sama membahas MBG, pilihan jawabannya berbeda Pilih kelompok responden. Tabel menampilkan seluruh pilihan, termasuk perbedaan penghentian sementara dan penghentian penuh. MasyarakatAhli CELIOS 2026, Gambar 5–6, hlm. 35; masyarakat N=1.142, ahli N=129. Pertanyaan dan opsi berbeda; angka kedua kelompok tidak dibandingkan seolah-olah memakai ukuran yang identik. Perbedaan kecil dalam penyajian dapat mengubah kesan. Jika 37% ahli yang memilih penghentian sementara digabung dengan 50% yang memilih penghentian penuh, hasilnya 87%. Tetapi menyebut seluruh 87% itu menginginkan penghentian permanen akan menghilangkan perbedaan penting dalam jawaban. Survei juga memuat penilaian terhadap Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Sebanyak 66% responden masyarakat menyatakan tidak setuju terhadap program tersebut. Di kelompok ahli, 91% tidak setuju atau sangat tidak setuju bahwa program dirancang dan dijalankan secara memadai untuk mencapai tujuannya. Lagi-lagi, kedua pertanyaan menilai hal yang berbeda.[1, hlm. 36] CELIOS mendorong penghentian kedua program itu. Itu adalah rekomendasi penulis laporan. Untuk menentukan pilihan kebijakan—memperbaiki desain, membatasi cakupan, menghentikan sementara, atau menghentikan penuh—pemerintah tetap memerlukan evaluasi biaya, keamanan, ketepatan sasaran, dan manfaat. Penolakan responden merupakan alasan kuat untuk mendengar keluhan dan memeriksa pelaksanaan; ia belum menjadi pengukuran dampak program. Menilai pemerintah juga menyangkut ruang bersuara Apakah warga dapat mengkritik tanpa takut? Apakah pers dapat bekerja dan organisasi dapat berkumpul? Pertanyaan semacam ini berkaitan dengan kebebasan sipil, yaitu ruang bagi warga untuk berpendapat, berkumpul, berserikat, dan memperoleh informasi. Pada pertanyaan perlindungan kebebasan sipil, 36% responden memilih tidak terlindungi atau sangat tidak terlindungi. Sebanyak 21% memilih terlindungi atau sangat terlindungi. Kelompok terbesar, 43%, menjawab “sama saja”.[1, hlm. 38–39] Visual 05 · Jawaban yang sering terlewat “Sama saja” tidak sama dengan “terlindungi” Pilih tampilan ringkas atau terperinci. Warna mengikuti kategori jawaban, bukan penilaian baru dari artikel. 3 kelompok5 jawaban asli CELIOS 2026, Gambar 11, hlm. 39; masyarakat N=1.142. Tampilan ringkas menjumlahkan dua kategori negatif dan dua kategori positif. “Sama saja” dipertahankan sebagai jawaban tersendiri. Jawaban “sama saja” tidak memberitahu kita apakah situasi awalnya sudah baik atau justru sudah bermasalah. Karena itu, 43% tersebut tidak dapat dimasukkan begitu saja ke kelompok yang menilai kebebasan terlindungi. Demikian pula, proporsi negatif yang lebih besar daripada positif belum berarti mayoritas seluruh responden memberi penilaian negatif. Untuk menilai keadaan kebebasan sipil secara lebih utuh, persepsi ini perlu dibaca bersama catatan pembatasan kegiatan, pengaduan warga, pengalaman jurnalis, dan tindak lanjut lembaga terkait. Pengalaman dan bukti kejadian dapat saling melengkapi. Skor menteri bukan nilai ujian Laporan juga memeringkat pejabat kabinet. Purbaya Yudhi Sadewa berada di posisi teratas dalam daftar yang ditampilkan, dengan skor 291. Pada sisi negatif, Bahlil Lahadalia mendapat −159. Angka ini mudah memancing perhatian, tetapi satuannya berbeda dari nilai presiden pada skala 1–10.[1, hlm. 5 dan 9] Visual 06 · Baca satuannya Peringkat berdasarkan skor persepsi Pilih sisi daftar. Angka berasal dari agregasi pilihan terbaik dan terburuk yang diberi bobot menurut posisi. 10 skor positif10 skor negatif Skor 291 bukan 291%, dan skor negatif tidak berarti nilai di bawah nol pada skala 1–10. Besarnya skor bergantung pada cara pilihan responden dihimpun dan diberi bobot. CELIOS 2026, Gambar 3, hlm. 9; basis pemeringkatan N=994, berbeda dari total 1.142 responden masyarakat. Nama ditampilkan sesuai laporan. Artikel tidak menganggap daftar ini sebagai susunan pejabat terkini. Metode yang dipakai mengadaptasi sistem skor berdasarkan urutan pilihan, seperti pemeringkatan penghargaan olahraga. Poin posisi atas dibuat lebih besar. Akibatnya, peringkat dapat dipengaruhi siapa yang lebih dikenal, siapa yang paling diingat, dan bagaimana bobot diberikan. Daftar ini berguna untuk membaca apresiasi dan kritik dari responden. Untuk menilai kinerja jabatan secara menyeluruh, kita masih perlu melihat target, hasil layanan, penggunaan anggaran, masa kerja, dan masalah yang diwarisi. Mengganti orang tanpa memperbaiki proses pengambilan keputusan belum tentu mengubah hasil. Dari banyak kegiatan ke manfaat yang terasa Salah satu gagasan yang dapat diambil dari laporan ini adalah perlunya melihat hasil di luar angka kegiatan. Anggaran terserap menunjukkan uang telah digunakan. Jumlah porsi, pelatihan, atau bangunan menunjukkan kegiatan terlaksana. Pertanyaan berikutnya: apa yang berubah bagi penerima? Visual 07 · Kerangka memahami program Berjalan belum tentu berhasil Pilih contoh untuk mengikuti hubungan antara sumber daya, kegiatan, dan hasil. Ini kerangka penjelasan artikel, bukan temuan angka atau simulasi dampak CELIOS. Layanan giziPelatihan kerjaKoperasi desa Contoh konseptual untuk menjelaskan perbedaan masukan, keluaran, dan hasil. Sejalan dengan pertanyaan evaluasi dalam laporan CELIOS, hlm. 2 dan 34. Hubungan sebab-akibat perlu diuji, tidak otomatis terjadi. Evaluasi yang baik menelusuri hubungan itu. Jika pelatihan bertambah tetapi peserta belum memperoleh pekerjaan yang layak, yang perlu diperiksa mungkin isi pelatihan, kebutuhan perusahaan, akses transportasi, atau hambatan lain. Menambah kegiatan yang sama belum tentu menjawab masalahnya. Di sinilah rapor CELIOS dapat menjadi awal percakapan publik. Nilai rendah mengundang pertanyaan; keluhan responden membantu menentukan bagian yang perlu diperiksa. Pemerintah dapat menjawab dengan data pelaksanaan yang terbuka, penjelasan atas kekurangan, dan perubahan yang bisa dipantau warga. Pertanyaan terpenting setelah membaca rapor: perubahan apa yang bisa diperiksa warga dalam kehidupan mereka sendiri? Membaca secara kritis berarti menjaga dua hal sekaligus: memberi tempat bagi pengalaman warga dan menuntut bukti yang memadai untuk kesimpulan yang besar. Dengan begitu, pembahasan rapor dapat berlanjut dari saling membela atau menyalahkan menuju pemeriksaan kebijakan yang lebih berguna. Istilah yang tidak perlu bikin rumit Persepsi Penilaian atau pengalaman yang dilaporkan seseorang. Penting sebagai informasi, tetapi belum otomatis sama dengan kondisi yang diukur langsung melalui data administrasi atau pengamatan. Sampel nonprobabilitas Cara menjangkau responden tanpa mengetahui peluang terpilih setiap anggota populasi. Dalam laporan ini, masyarakat direkrut melalui iklan Meta. Keterwakilannya harus dinilai dengan hati-hati. Pembobotan Memberi pengaruh berbeda pada jawaban agar komposisi sampel lebih mendekati acuan tertentu. Pembobotan bergantung pada informasi dan asumsi yang digunakan; ia tidak otomatis memperbaiki semua ketimpangan siapa yang ikut survei. Reliabilitas Konsistensi instrumen pengukuran. Pertanyaan yang konsisten membantu mengukur suatu konsep, tetapi tidak menjamin responden mewakili seluruh penduduk. Output dan outcome Output adalah keluaran kegiatan, seperti jumlah peserta pelatihan. Outcome adalah perubahan yang diharapkan, seperti peserta mendapat pekerjaan lebih baik. Hubungan keduanya perlu diperiksa. Poin persentase Selisih antara dua persentase. Contohnya, 36% dikurangi 21% adalah 15 poin persentase. Ini berbeda dengan selisih 1,8 poin pada skala penilaian 1–10. Catatan sumber dan pengolahan CELIOS (2026). Rapor Kinerja 2 Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran. Sumber utama adalah PDF yang diberikan untuk artikel ini. Halaman publikasi resmi ↗. Nomor halaman dalam artikel mengikuti nomor tercetak di laporan, bukan urutan halaman PDF. Data yang dipakai: metode hlm. 3–5; nilai hlm. 7–10; program hlm. 34–36; kebebasan sipil hlm. 38–39; ekonomi hlm. 47–48; prioritas hlm. 49. AAPOR. Transparency Initiative dan Disclosure Standards. Acuan tambahan untuk membaca metode survei dan batas ukuran ketepatan pada sampel nonprobabilitas. Apa yang diolah ulang oleh artikel ini? Grafik dibuat ulang dari angka dalam PDF. Selisih nilai dihitung dari rata-rata terbitan; kategori kebebasan sipil diringkas dengan penjumlahan; urutan prioritas diurutkan menurut persentase. Tidak ada data responden individu atau pengujian statistik baru. Visual 7 adalah contoh konseptual. Mengapa tidak semua bagian laporan dimuat? Artikel memilih tema yang membantu pembaca pemula memahami pengalaman warga, arti angka, dan evaluasi program. Ini bukan ringkasan seluruh dokumen. Klaim kejadian, jabatan terkini, hubungan sebab-akibat, dan penilaian kondisi kesehatan seseorang tidak diambil sebagai fakta hanya karena muncul dalam opini responden atau uraian laporan. Apakah hasil ini bisa dipakai meramal pemilu? Artikel tidak membuat ramalan pemilu. Desain sampel, waktu pengumpulan, pertanyaan, dan perubahan situasi membatasi penggunaan survei ini. Penilaian atas kebijakan juga berbeda dari pilihan seseorang di bilik suara. Bagaimana dengan pembulatan dan margin kesalahan? Persentase mengikuti angka yang telah dibulatkan dalam laporan. Sebagian grafik asal dapat berjumlah 99% atau 101%; artikel tidak mengubahnya agar tampak tepat 100%. Artikel juga tidak membuat margin kesalahan acak dari jumlah sampel nonprobabilitas. Besar sampel saja belum cukup untuk itu. Kesimpulan editorial: sumber utama memuat kritik dan rekomendasi CELIOS. Artikel ini menjelaskannya dengan bahasa sederhana serta memberi batas pada kesimpulan yang bisa ditarik dari survei. Ini bukan hasil audit kinerja pemerintah maupun survei baru. Unduh naskah (.txt) Naskah unduhan berformat teks (.txt) dan dapat dibaca tanpa internet. Untuk menggunakan visual interaktif, buka halaman artikel ini. LAMPIRAN DATA VISUAL INTERAKTIF 1. Rata-rata penilaian, skala 1–10 (masyarakat; ahli): Presiden: 4.6; 2.8 Wakil presiden: 4.9; 2.2 Kabinet: 4.7; 2.9 2. Ekonomi rumah tangga dibanding setahun lalu: Lebih buruk: 53% Sama saja: 31% Lebih baik: 16% 3. Prioritas perbaikan (pilihan majemuk): Harga kebutuhan pokok: 78% Lapangan kerja & perlindungan pekerja: 58% Penegakan hukum & reformasi birokrasi: 35% Bansos & perlindungan sosial: 28% Kesehatan publik: 27% Pendidikan: 18% Nilai tukar & kebijakan makro: 7% Lingkungan & energi: 6% Komunikasi & partisipasi publik: 6% Perlindungan perempuan: 3% Keamanan & ketertiban: 2% Tata kelola digital & data: 2% 4. Kelanjutan MBG: Masyarakat: setuju dihentikan 76%; tidak setuju dihentikan 18%; tidak tahu 6%. Ahli: dilanjutkan dengan perbaikan tata kelola, pengawasan mutu dan penganggaran 4%; dilanjutkan dengan cakupan dipersempit 9%; dihentikan sementara sampai evaluasi menyeluruh 37%; dihentikan sepenuhnya 50%. Pertanyaan kedua kelompok berbeda. 5. Perlindungan kebebasan sipil: Sangat tidak terlindungi 10%; tidak terlindungi 26%; sama saja 43%; terlindungi 14%; sangat terlindungi 7%. 6. Skor peringkat pejabat dalam laporan (N=994, bukan persen): Purbaya Yudhi Sadewa: +291 Amran Sulaiman: +140 Agus Harimurti Yudhoyono: +127 Sjafrie Sjamsoeddin: +12 Maman Abdurrahman: +11 Budi Gunadi Sadikin: +8 Maruarar Sirait: +6 Yusril Ihza Mahendra: +6 Abdul Mu’ti: +5 Tito Karnavian: +4 Bahlil Lahadalia: -159 Natalius Pigai: -158 Raja Juli Antoni: -103 Sudaryono: -47 Zulkifli Hasan: -43 Nusron Wahid: -24 Pratikno: -17 Saifullah Yusuf: -17 Muhaimin Iskandar: -16 Fadli Zon: -16 7. Kerangka konseptual artikel; bukan pengukuran dampak: GIZI 1. Anggaran, bahan pangan, tenaga, dan dapur. Sumber daya tersedia untuk menyiapkan layanan. 2. Makanan tersalurkan dengan aman. Hitung porsi, mutu, ketepatan penerima, dan keamanannya. 3. Asupan dan kondisi gizi membaik. Periksa perubahan pada penerima dan faktor lain yang memengaruhinya. KERJA 1. Dana, pengajar, dan kurikulum. Materi perlu sesuai kebutuhan peserta dan kesempatan kerja. 2. Peserta menyelesaikan pelatihan. Catat siapa yang selesai dan keterampilan yang diperoleh. 3. Akses kerja dan penghasilan membaik. Telusuri kondisi peserta setelah pelatihan; bandingkan dengan keadaan awal. KOPERASI 1. Modal, pengelola, dan jaringan pasar. Periksa kebutuhan anggota dan kelayakan model usaha. 2. Koperasi memberi layanan dan bertransaksi. Gedung atau legalitas saja belum menunjukkan layanan berjalan. 3. Posisi tawar dan pendapatan anggota membaik. Uji manfaat bagi anggota, biaya layanan, dan keberlanjutan usaha. SUMBER PUBLIK: CELIOS: https://celios.co.id/rapor-2-tahun-pemerintahan-prabowo-gibran/ AAPOR: https://aapor.org/standards-and-ethics/transparency-initiative/ AAPOR: https://aapor.org/standards-and-ethics/disclosure-standards/