Profil

Oleh: Muhammad Habibi


 

Tentang Mas Habibi

Sebuah Perspektif dari Adek

 

Muhammad Habibi, pria dengan perawakan tinggi besar ini dilahirkan di Gresik, 6 November 1993. Habibi, panggilan akrabnya, putra dari Bapak Said dan Ibu Sari ini melewatkan masa kecil dan remajanya dengan berpindah-pindah antara tempat kelahirannya dengan sebuah daerah di timur Pulau Borneo, sebuah kota kecil bernama Sangatta, tempat kedua orang tuanya mencari rezeki. Habibi kecil sangat menyukai membuat layangan sendiri dan kemudian menerbangkannya ke langit, sebuah proses menyenangkan baginya kala itu.

Pengalaman pendidikan paling berpengaruh baginya adalah menempuh pendidikan menengah di MTSn Gresik dan SMA Negeri 1 Sangatta Utara. Pada sekolah menengah pertama, ia mendapat banyak bekal dari guru fiqihnya mengenai bagaimana menjadi sebaik-baiknya muslim dan bermanfaat untuk orang lain. Bekal di sekolah menangah atasnya terutama tentang soft skill dalam lingkungan sosialisasinya, yang belakangan ia sadari begitu berpengaruh dalam dunia pendidikan tinggi dan kerjanya, seperti tentang berusaha menyampaikan pendapat secara kritis, kemampuan mendengarkan orang yang sedang menyampaikan suatu isu, hingga kemampuan menulis.

Pria berkacamata ini memulai pendidikan tinggi di Universitas Mulawarman tahun 2012, mengambil program studi akuntansi. Menjalani hari-hari pendidikan menggeluti ilmu ekonomi dan angka-angka untuk menjadi akuntan, sembari membaca-baca perkara politik dan pemerintahan, membuatnya menemukan passionnya yang sesungguhnya.  Pada tahun 2014 ia memutuskan menambah program studi lagi, ia lulus seleksi nasional masuk perguruan tinggi untuk menjadi mahasiswa ilmu pemerintahan di universitas yang sama.

Menuju penghujung tahun 2017, sebuah peristiwa menguji sabar dan syukur Habibi dan keluarga. Saat ia sedang berkendara menuju ke Samarinda untuk kembali masuk kuliah mengurusi kegiatan akademiknya, sebuah motor melaju tak terkendali dan menabrak lubang dekat dengan motor Habibi. Motor tersebut terlempar ke arah kaki kanan Habibi. Pada malam 17 September 2017, setelah menjalani 2 kali operasi dan perawatan lebih dari 20 hari, Allah mengambil kaki kanannya pada operasi ketiga, setelah berusaha dipertahankan oleh tim medis. Habibi tetap menggenggam sabar dan syukur dalam setiap langkahnya. Senyum yang ia berikan sebelum masuk kamar operasi yang ketiga kalinya menjadi penguat untuk keluarga dan orang terdekatnya.

Paska kejadian yang mengharuskannya menjalani 3 bulan pertama post operasi dengan menggunakan kruk sebagai alat bantu, kemudian dilanjutkan menggunakan prosthesis bawah lutut hingga hari ini, Habibi tetap bersemangat menyelesaikan skripsi di kedua program studi yang ia telah pilih. Akhirnya, ia lulus menjadi sarjana ilmu pemerintahan di awal tahun 2018, dan kemudian langsung melanjutkan studi magister ilmu pemerintahan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ia memang begitu menyukai ilmu politik dan pemerintahan.

Sabar dan syukur, dan oleh sebab rahmat Allah SWT, mengantarkannya menuju jenjang karir berikutnya, dimana ia diterima pada seleksi CPNS 2018 menjadi Analis Pemilihan Umum di Badan Pengawas Pemilu RI. Semenjak itu hingga sekarang, ia berdomisili di ibukota Republik Indonesia. Bekerja, mengerjakan tesis dan skipsi sekaligus, di tiga kota yang berbeda (Jakarta, Yogyakarta, dan Samarinda), menunjukkan betapa tinggi etos kerja Habibi. 2019 pun menjadi tahun dengan banyak kejadian penting. Awal tahun ia menjalani Pendidikan dan Latihan Dasar CPNS 2018. Setelah medio 2019 terlewati, akhirnya ia lulus Diklat tersebut dan juga menyelesaikan sarjana akuntansinya, kemudian pada 9 November 2019 ia resmi menambatkan hatinya pada belahan jiwanya, berjanji di hadapan Allah SWT untuk dapat menjadi sebaik-baiknya imam bagi perempuan keturunan Jawa yang besar di Kalimantan Timur bernama Dyah Anugrah Pratama.

Menjadi suami adalah fase pendewasaan berikutnya bagi Habibi. Sembari bekerja, akhirnya ia menamatkan magisternya, menjadi Magister Ilmu Pemerintahan dan lulus di awal 2020, dengan nilai sempurna: seorang cumlaude, IPK 4.00, mahasiswa terbaik di wisuda UMY periode Maret 2020. Harapannya adalah ingin mengabdikan diri sebagai pemberi ilmu. Ia telah menulis beberapa jurnal yang telah dipublikasikan dan mengelola laman website pribadi muhammadhabibi.net agar setiap pemikirannya dapat dibaca oleh banyak orang, karena sebaik-baiknya ilmu adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Cita-citanya saat ini adalah menjadi putra, suami, dan abdi negara yang lebih baik, serta mendapatkan beasiswa untuk menjadi seorang doktor. Teruslah melesat, Muhammad Habibi.

Untuk profil lain dapat dilihat dalam beberapa artikel dibawah ini:

Habibi, Sosok Inspiratif yang Tidak Menyerah di Tengah Kekurangan, Dimuat di Sketsa Unmul, 18 Desember 2017;

Kadang Suka Salah Tulis NIM, Bermimpi Jadi Peneliti, Dimuat di Kaltim Post, 20 Desember 2017;

Habibi: Best Student MIP UMY, GPA 4.0, in the Industrial Era 4.0, Dimuat di JKSG UMY, 11 Maret 2020;

Jatuh-Bangun: Kisah Hidup Habibi, Peraih IPK 4.0 UMY, Dimuat di APPPTMA, 12 Maret 2020;