Politik Terlalu Penting dan Terlalu Berharga
11 Januari 2020     799 Kali    
Oleh : Muhammad Habibi

Dinamika politik suatu masyarakat dan negara memengaruhi nyaris semua sendi kehidupan, tak terkecuali di Indonesia. Sulit menemukan celah kehidupan masyarakat yang benar-benar tak tersentuh dan/dipengaruhi politik. Kenyataan inilah yang suka atau tidak, membuat perhatian masyarakat terhadap politik menjadi sangat besar. Masyarakat yang belum mempunyai pengalaman politik atau yang tidak pernah mempelajarinya secara formal akan merasa bahwa dinamika politik di Indonesia hanya menciptakan kebingungan. Akhirnya masyarakat akan memberikan penilaian negatif terhadap politik. Bahkan orang akan menganggap konotasi dari "politik" adalah sesuatu yang buruk.

 

Demokrasi kita dalam pertaruhan. Karena reformasi kita sedang terancam fenomena kartelisasi politik, yang gejalanya menguat dalam dominasi kehidupan politik, ekonomi dan sosial kita. Mereka menggunakan partai politik sebagai kendaraan untuk melakukan hegemoni, sehingga parpol kita hari ini semakin berwatak oligarkis dan membawa kecenderungan negatif parpol di mata publik. Kondisi parpol diperburuk dengan kepemimpinan gerontokrasi, dominasi tokoh senior sebagai pucuk pimpinan partai, menjadikan partai oligarkis dan tampil personal, akibat mandeknya regenerasi dan kaderisasi.

 

Dengan begitu jangan harap partai akan menjadi organisasi modern, sebaliknya berkembang menjadi kelompok arisan jabatan dari elite politik di lingkaran sang pemimpin/ketua umum. Partai berjalan tanap pijakan etika politik, yang akibatnya moralitas politik kader-kader partai akan merosost ke titik paling rendah dan berujung ramainya fenomena korupsi dan money politics di kalangan para politisi.

 

Jangan heran jika partai miskin visi dan misi, karena kita lihat semua partai mengusung retorika dan slogan yang hampir sama, tidak kelihatan jelas perbedaan konsep dan solusi perbaikan. Dan, akhirnya partai-partai kita kehilangan ideologi, yang tampak dari profil partai relatif sama, tidak ada pembedaan atau ciri khas ideologi yang membedakan garis idea perjuangan dari setiap partai tersebut. Partai hanya kendaraan formal instrumentalis menjalankan kartelisasi politik berburu kekuasaan. Jika tanpa solusi tuntas, reformasi kita bisa berujung pada deformasi, yang akan mengacaukan tatanan hidup bersama. 

 

Kita harus mencatatnya, dan mengajukan solusi fundamental untuk mereformasi partai politik, sehingga itu menciptakan perubahan gradual dan sistematis menuju demokrasi yang terus terkonsolidasi dan berpihak pada kepentingan rakyat. Langkahnya harus diawali dengan reformasi sistem kepartaian dan reformasi sistem pemilu. Perubahan Undang-Undang Kepartaian harus didorong dengan menempatkan parpol pada posisi yang bisa diawasi publik dan lembaga peradilan, sehingga terjadi kontrol publik.

 

Sistem pemilu harus membuat penyelenggara pemilu (KPU dan Bawaslu) profesional dan independen, sehingga makin menjamin transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pemilu. Jika upaya-upaya ini bisa dilakukan, kita masih bisa berharap politik transaksional dan praktik korupsi berbasis partai bisa diperkecil dan perlahan diharapkan hilang. Dengan begitu, demokrasi bisa kita harapkan kembali pada janjinya untuk menciptakan kebebasan dan keadilan, di mana semua warga negara melakukan tanggung jawabnya mewujudkan kebaikan umum. Politik itu mulia, ia terlalu penting dan terlalu berharga!