Corona dan Apa yang Bisa Kita Lakukan?
18 April 2020     434 Kali    
Oleh : Muhammad Habibi

Virus korona, sebenarnya virus ini dinamai sesuai dengan tonjolan pada selubung virusnya, yang akhirnya membuat wujudnya tampak indah seperti bunga. Namun efek yang diakibatkan oleh keberadaanya tidak seindah nama virus ini. Sebagian besar virus korona menginfeksi hewan, meski ada beberapa yang juga telah menginfeksi manusia, yang paling kita sering dengar namanya karena dulu pernah menyebabkan wabah juga adalah MERS-CoV (Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus) dan SARS-CoV (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus).  Namun baru-baru ini, sekitar akhir 2019, terdapat virus varian baru dan menginfeksi saluran napas bawah pasien di kota Wuhan (China), yang saat ini dikenal dengan nama virus SARS-CoV-2. Dikonfirmasi bahwa virus yang awalnya dari hewan ini, menular juga dan manusia ke manusia.

Virus korona umumnya menular melalui droplet, atau pun fecal-oral. Droplet artinya percikan lendir dari saluran napas manusia, baik dari bersin, batuk, atau percikan saat bicara. Sedangkan fecal-oral berarti dapat juga menyebar melalui kotoran manusia dan makanan. Namun penyebaran secara fecal-oral masih diteliti lebih lanjut. Virus ini adalah virus korona yang mengalami perubahan genetik (mutasi). Masa inkubasinya paling singkat 1 hari, namun tidak lebih dari 14 hari. Tetapi ada beberapa laporan kasus yang memiliki masa inkubasi hingga 24 hari. Masa inkubasi adalah periode waktu antara virus masuk ke dalam tubuh hingga menginfeksi dan menimbulkan gejala.

Yang perlu dicatat, bahwa seseorang yang sudah terinfeksi bisa saja belum bergejala (baik karena masih dalam awal masa inkubasi, atau imun tubuh mampu melawan virus), namun karena virus sedang ada dalam tubuh akan dapat berisiko menularkan ke orang lain. Dan virus baru ini merupakan varian yang sangat gampang menular. Virus ini adalah jenis baru yang belum dikenal oleh kekebalan tubuh manusia, masyarakat umum belum memiliki kekebalan. Penularannya pun diketahui lebih dari 1 cara. Hal ini yang menjadikannya pandemi.

Virus ini menyebabkan penyakit yang saat ini kita kenal sebagai COVID-19 (Corona Virus Disease-19). Penyakit saluran napas akut dengan gejala demam, batuk, sesak, sakit kepala, bahkan nyeri otot. Sebagian besar pasien yang sakit akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuhnya yang baik, namun menurut beberapa penelitian, 10% dari total penderita akan mengalami gejala yang berat bahkan kematian (kita menyebutnya tingkat fatalitas). Tingkat fatalitas ini meningkat bagi mereka yang berusia 40 tahun ke atas, atau memiliki penyakit lainnya (seperti penyakit jantung, kencing manis, asma, penyakit paru-paru kronis). Kelompok inilah yang paling rentan sakit bahkan menjadi sakit berat. Dan menjadi tanggung jawab kita untuk melindungi mereka.

Karena persebaran virusnya yang sangat cepat, angka kejadian kasusnya pun akan melonjak jika tidak segera ditahan laju penularannya. Tentunya hal ini akan menyebabkan penderita akan semakin banyak. Sampai hari ini (17 April 2020), secara global terdapat 2.074.52 kasus konfirmasi dengan kasus meninggal sebanyak 139.378 jiwa (6.7 %). Laporan kasus positif Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Indonesia pertama kali dirilis oleh pemerintah pada tanggal 2 Maret 2020. Saat itu Presiden Joko Widodo mengumumkan dua pasien positif virus corona, seorang ibu dan anaknya yang diduga tertular oleh warga negara Jepang. Semenjak dua kasus pertama itu diumumkan, situs resmi Kementerian Kesehatan mengumumkan hingga kini telah ada 5.923 kasus terkonfirmasi positif, dengan 607 (10,2 %) kasus sembuh dan kematian sebanyak 520 (8,7 %) jiwa.

Ketika penderita semakin banyak, maka angka kasus yang fatal pun akan sejalan meningkat. Hal ini yang menjadi kekhawatiran, apakah infrastruktur medis kita sanggup menangani lonjakan pasien rawat inap, bahkan harus mendapat pelayanan intensif, dalam satu waktu bersamaan? Tentu hal itu juga harusnya sedang dipikirkan oleh pemangku jabatan (pemerintah pusat maupun daerah). Namun ada hal yang bisa kita lakukan bersama, saat ini.

1.      #dirumahsaja, setiap yang bisa memilih untuk tidak keluar rumah, usahakan untuk tidak keluar rumah. Terutama bagi kita yang berada di daerah dengan kasus positif terkonfirmasi atau baru pulang dari daerah dengan kasus positif. Mungkin kita merasa sehat, tanpa keluhan, namun apakah memang virus belum masuk dalam tubuh kita? Apakah kita tidak menjadi penular untuk kelompok berisiko sakit berat? Berkumpul, mengadakan pertemuan dalam jumlah banyak orang, atau hanya makan bersama di kafe bukan hal yang bijaksana saat ini. Bahkan ibadah dalam skala besar pun dibolehkan untuk dilakukan di rumah masing-masing untuk masa ini. Sabar. Setelah pandemi ini usai, kita akan punya banyak waktu berkumpul lagi.

2.     Jika tidak bisa #dirumahsaja , karena tuntutan pekerjaan maupun hal penting mendesak yang tidak bisa ditunda, pastikan kita melakukan hal-hal ini.

-        Cuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun setelah menyentuh benda-benda yang berada di luar rumah. Virus korona bisa bertahan hingga 2-8 jam pada permukaan alumunium, bahkan 5 hari pada plastik.

-        Hindari menyentuh area wajah dengan tangan yang belum dicuci bersih.

-        Pakai masker jika ke tempat umum. Orang yang tampak sehat di hadapan kita, bisa saja adalah pembawa virus. Dan di tempat umum, usahakan berjarak 1-2 meter dari orang lain.

-        Sepulang dari aktifitas di luar, hindari bersentuhan dengan keluarga sebelum mengganti seluruh pakaian dan mencuci bagian tubuh yang tidak telindungi. Akan lebih baik jika langsung mandi.

3.     Naikkan daya tahan tubuh dengan makan makanan yang bergizi seimbang dengan nutrisi cukup (makan sayur dan buah setiap hari), dan olahraga rutin. Berhenti merokok agar fungsi paru tidak memburuk, hentikan konsumsi alkohol (terbukti bahwa alkohol akan menurunkan daya tahan tubuh), dan selalu bersemangat jalani hari. Ini semua akan berlalu, tetap kuat, Indonesia.

Bagaimana jika merasa mengalami gejala yang sudah saya sebutkan di atas? Di tengah wabah ini, kekhawatiran kita pasti meningkat. Tetap tenang dan waspada, lakukan hal ini.

1.     Jika gejala masih ringan (misalnya demam dan batuk, namun tidak sesak, masih bisa beraktifitas seperti biasa), jangan langsung ke RS. Kontak 119, kemudian tekan 9 untuk dapat terhubung dengan hotline Kementrian Kesehatan (Kemenkes). Atau manfaatkan aplikasi telemedicine terpercaya (konsultasi dokter secara online). Banyak pilihan yang bisa menghubungkan kita dengan dokter, seperti Good Doctor, Alodokter, Sehatpedia, Halodoc, atau Klik Dokter.

2.     Jika gejala berat (sesak berat atau penurunan kesadaran), segera bawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. Minimalkan kontak, beri masker pada penderita, dan berikan semua informasi secara terbuka pada tenaga medis sejak di awal kedatangan. Menutupi informasi akan membuat semakin banyak orang yang terpapar, jika sedang terinfeksi virus ini. Akan sangat lebih baik jika bisa menghubungi pihak Dinas Kesehatan, Puskesmas, maupun Rumah Sakit sebelum membawa pasien kesana.

Kita pasti khawatir. Kita pasti memiliki ketakutan dan pertanyaan, kapan ini semua akan berlalu. Tapi di samping hal-hal negatif dalam pikiran kita, ada hal positif yang bisa kita lakukan, bahwa kita juga bisa membantu menekan lajunya penyebaran virus ini. Dari rumah sendiri, dari diri kita sendiri. Jaga jarak – sebab kita saling menjaga. Semoga sehat selalu.

Salam.

Dokter Dyah.

 

Sumber:

Zhou, Wang (Ed). 2020. The Coronavirus Prevention Handbook. China: Wuhan Center for Disease Control and Prevention.

Liang, Tingbo (Ed). 2020. Buku Pegangan Pencegahan dan Penalataksanaan COVID-19. China: Zhejiang University School of Medicine.

Kementerian Kesehatan RI. 2020. Situasi Terkini Perkembangan Coronavirus Disease (COVID-19) 17 April 2020. Diakses dari http://infeksiemerging.kemkes.go.id