Cerita Corona: tentang Kita yang Kehilangan Sumber Aliran Ilmu yang Begitu Berharga
09 Mei 2020     387 Kali    
Oleh : Muhammad Habibi

Ditulis oleh dr. Dyah Anugrah Pratama dan Muhammad Habibi telah dimuat dalam buku elektronik “Membaca Korona, Esai-esai tentang Manusia, Wabah, dan Dunia

Laporan kasus positif Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Indonesia pertama kali dirilis oleh pemerintah pada tanggal 2 Maret 2020.  Saat itu Presiden Joko Widodo mengumumkan dua pasien positif virus corona, seorang ibu dan anaknya yang diduga tertular oleh warga negara Jepang.1 Semenjak dua kasus pertama itu diumumkan, hingga 6 Mei 2020 ini, telah ada 12.438 kasus terkonfirmasi positif, dengan 2.317 kasus sembuh (18.6 %) dan kematian sebanyak 895 jiwa (7.2 %).2 Sebuah penambahan angka kejadian penyakit yang besar untuk kejadian yang baru saja terkonfirmasi kurang dari 2 bulan yang lalu. Sebelumnya secara global pun organisasi kesehatan dunia (World Health Organization, WHO), sudah menetapkan kondisi ini sebagai pandemi tanggal 12 Maret 2020, kejadian ini merupakan pandemi pertama akibat coronavirus.3

Seiring meningkatnya angka kejadian penyakit COVID-19 diikuti pula dengan peningkatan angka pasien yang dirawat di rumah sakit. Peningkatan pasien yang sakit dengan gejala hampir serupa hingga sampai kebutuhan bantuan napas seperti ventilator dalam waktu singkat secara bersamaan tersebut tentunya membuat beban tenaga medis bertambah. Beban itu semakin bertambah dengan kondisi dimana Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker medis, sarung tangan lateks, dan sebagainya yang tiba-tiba menghilang dari pasaran, jikalau ada maka APD tersebut pasti harganya selangit, ditambah panic buying dari masyarakat yang ikut membeli APD yang harusnya hanya dipakai oleh tenaga medis. Runtutan kondisi itu semakin menyakitkan saat didapatkan fakta bahwa tidak sedikit tenaga medis berpulang setelah pandemi ini resmi dinyatakan oleh otoritas terkait.

Tepatnya tanggal 22 Maret, 20 hari semenjak kasus pertama COVID-19 diumumkan, laman media sosial Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyampaikan berita duka, sebanyak 6 dokter berpulang. “IDI berduka cita yang amat dalam atas berpulangnya sejawat anggota IDI sebagai korban pandemi COVID-19”, tulisan tersebut masih dapat kita temukan di akun instagram resmi @ikatandokterindonesia. Meskipun kemudian diklarifikasi bahwa 1 dari 6 dokter tersebut bukan wafat karena penyakit COVID-19 namun dikarenakan kelelahan dan serangan jantung, dimana beliau menjabat sebagai bagian Satgas Tim Penanggulangan COVID-19 di tempat beliau bertugas. Setelah hari itu, laman media sosial IDI terus memberitakan gugurnya para “pahlawan-pahlawan” kemanusiaan tersebut. Hingga hari ini, tercatat 26 dokter, baik dokter umum maupun dokter dengan berbagai spesialisasi, dan dengan masa bakti yang tidak sebentar, telah meninggalkan kita. Selain dokter, tenaga medis lain seperti perawat, dikabarkan juga ada yang meninggalkan kita. Orang-orang terbaik, manusia dengan dedikasi tinggi, tidak salah bahwa bangsa Indonesia kehilangan begitu banyak dalam waktu singkat.

Berbicara spesifik tentang kehilangan para dokter tersebut, kita telah kehilangan sosok manusia yang telah menghabiskan setidaknya 6 hingga 7 tahun masa awal perguruan tingginya dengan berusaha mendapatkan dua huruf di depan nama mereka, “dr.” (gelar yang didapat setelah beliau menempuh pindidikan preklinik Sarjana Kedokteran dan dilanjutkan dengan tahun-tahun di pendidikan klinik sebagai co-assistant atau saat ini lebih dikenal dengan sebutan Dokter Muda). Kita kehilangan beliau yang setelah menjadi dokter masih melanjutkan pendidikan pasca sarjana hingga mendapat gelar magister, atau yang telah mengambil pendidikan dokter spesialis. Kita telah ditinggalkan orang-orang yang telah menjalani pengalaman klinis bertahun-tahun. Dari 24 orang tersebut bahkan terdapat guru besar yang telah mengajar, bukan tidak mungkin, ratusan atau ribuan murid sepanjang hidupnya. Aliran ilmu itu, segenap pengalaman klinis beliau semua, menilik semua itu, sungguh kita kehilangan banyak sekali. Sebab kehilangan orang berilmu adalah musibah bagi kita.

Kehilangan para dokter itu juga menyebabkan rasio dokter per pasien di Indonesia menjadi berubah. Data 2019, jumlah dokter umum di Indonesia sebanyak 50.198 dokter dan dokter spesialis di Indonesia sebanyak 31.078.4 Angka ini tentu masih bertambah tiap tahunnya seiring dengan makin banyaknya episentrum pendidikan kedokteran di tiap provinsi. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa penduduk Indonesia pun juga semakin bertambah tiap tahunnya. Hingga 2019, penduduk Indonesia diproyeksikan telah mencapai hampir 267 juta.5 Jika tersebar secara merata, setiap dokter umum akan melayani sekitar 5.318 pasien, dan rasio dokter spesialis per penduduk adalah 1 banding 8.558 penduduk. Meskipun kita sama-sama tahu bahwa persebaran dokter masih belum merata, menumpuk di kota-kota besar. Berkaitan dengan COVID-19, dokter spesialis paru adalah salah satu tombak utama pelayanan pasien yang dirawat di rumah sakit. Kebanyakan spesialis paru akan menjadi dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP) saat pasien COVID-19 dirawat di rumah sakit karena paling banyak didiagnosis dengan pneumonia. Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Agus Dwi Susanto, mengatakan bahwa jumlah dokter spesialis paru di Indonesia hanya 1.106 orang.6 Sebuah angka yang kecil jika dibandingkan dengan kemungkinan kasus yang terjadi jika kita semua masih abai.

Berbagai macam permodelan proyeksi tentang seberapa banyak kasus COVID-19 yang terjadi di Indonesia telah berusaha dibuat oleh para peneliti. Salah satu yang menurut hemat kami menggambarkan secara holistik tentang berbagai macam skenario yang mungkin terjadi adalah sebuah permodelan yang dikembangkan oleh beberapa alumnus Departemen Matematika Universitas Indonesia. Berdasarkan data yang mereka olah, didapatkan bahwa 1 orang positif COVID-19 dapat menularkan penyakit tersebut pada 2 hingga 3 orang baru. Jika sejak 1 April diberlakukan kebijakan strategis dari pemerintah dibarengi dengan kedisiplinan yang diterapkan di masyarakat, maka pada tanggal 16 April akan tercapai puncak kasus, dengan akumulasi kasus sekitar 17.000 dan diperkirakan akan reda di akhir Mei hingga awal Juni.7

Skenario kedua, jika sudah ada kebijakan yang dibuat namun kurang tegas dan kurang strategis, serta masyarakat yang tidak disiplin. Kemungkinan puncak pandemi terjadi pada tanggal 2 Mei, dengan akumulasi kasus positif mencapai 60.000 kasus, dengan kasus baru hampir mencapai 1500an, dimana kondisi pandemi baru berakhir pada akhir Juni-awal Juli.. Skenario terburuk adalah jika per tanggal 1 April tidak ada kebijaksanaan seignifikan dan masyarakat abai untuk menjaga physical distancing, maka puncak pandemi baru akan terjadi tanggal 4 Juni dengan kasus baru mencapai 11 ribuan, dan akumulasi kasus ratusan ribu. Skenario ini memproyeksikan bahwa pandemi baru akan berakhir pada akhir Agustus hingga awal September.7

Sampai dengan opini ini kami buat hingga medio April 2020, negeri kita belum mendapat permodelan kebijakan yang kiranya benar-benar tepat untuk memutus mata rantai penularan virus ini. Demikian juga meskipun beberapa kantor telah menerapkan work from home, kita masih bisa melihat beberapa ruas jalan di ibukota negara yang masih padat. Jika skenario kedua yang mungkin paling mirip dengan kondisi saat ini terjadi (kebijakan sudah ada namun kurang strategis, dan masyarakat yang belum disiplin), angka positif sebanyak 60.000 kasus di bulan Mei nanti bukanlah sebuah angka yang kecil.

Dari seluruh kasus itu, 80% kemungkinan sakit ringan bahkan tanpa gejala, 15 % sakit berat, dan 5% kasus membutuhkan perawatan intensif. Berarti ada 12.000 orang yang harus dirawat dalam waktu yang hampir bersamaan, dengan 3.000 kasus membutuhkan ruang Intensive Care Unit (ICU). Selain itu, crude mortality ratio (angka banyaknya kematian dibanding dengan jumlah yang terinfeksi) secara global sebanyak 3-4 %, maka dari 60.000 itu. Sekitar 1.800-2.400 orang yang kemungkinan meninggal karena penyakit ini.8 Angka-angka ini dihitung bukan dengan permodelan skenario terburuk. Jika kita menggunakan skenario terburuk, maka angkanya tentu lebih besar lagi.

Kasus yang semakin banyak tentunya sejalan dengan peningkatan pasien yang harus dirawat di rumah sakit, bahkan juga dengan semakin besarnya angka kematian. Kemungkinan beban tenaga medis yang bertambah, kemungkinan mereka terpapar semakin besar, dan belum ada keyakinan perlindungan diri mereka secara paripurna merata, tentu sangat mengkhawatirkan kita semua. Kita tidak ingin lagi kehilangan “sumber-sumber aliran ilmu” yang begitu berharga itu. Tidak ingin semakin banyak kehilangan. Dan kabar baik dari permodelan yang sudah dijabarkan di atas, kita bisa meminimalisirnya dengan melandaikan kurva kejadian COVID-19, sehingga angka yang harus mendapat penanganan di RS bisa kita tekan, dan tidak menambah beban tenaga medis yang sesungguhnya sudah berat. Pandemi, tidak pernah mudah bagi mereka, apalagi pandemi sebuah penyakit baru yang kita masih meraba-raba bagaimana penanganan terbaiknya. Yang bisa dilakukan sebagai masyarakat umum adalah bersikap soliter sekaligus solider. Soliter dalam artian pembatasan kegiatan sosialisasi secara fisik, seperti tagar yang belakangan semakin banyak kita temui #dirumahsaja. Solider berarti saling bantu satu sama lain, ringankan beban mereka yang tidak bisa keluar rumah, bantu sediakan kebutuhan mereka yang sedang isolasi mandiri, hentikan stigma negatif bagi setiap pasien yang terkena. Stigma itu membuat mereka takut untuk jujur tentang penyakitnya, dan akhirnya akan mebahayakan tenaga medis yang terpapar oleh mereka.

Berbicara spesifik tentang soliter, setiap kita yang bisa memilih untuk tidak keluar rumah, usahakan untuk tidak keluar rumah. Terutama bagi kita yang berada di daerah dengan kasus positif terkonfirmasi atau baru pulang dari daerah dengan kasus positif. Mungkin kita merasa sehat, tanpa keluhan, namun apakah memang virus belum masuk dalam tubuh kita? Apakah kita tidak menjadi penular untuk kelompok berisiko sakit berat? Berkumpul, mengadakan pertemuan dalam jumlah banyak orang, atau hanya makan bersama di kafe bukan hal yang bijaksana saat ini. Bahkan ibadah dalam skala besar pun dibolehkan untuk dilakukan di rumah masing-masing untuk masa ini. Sabar. Setelah pandemi ini usai, sungguh, kita akan punya banyak waktu berkumpul lagi.

Jika tidak bisa memilih #dirumahsaja karena tuntutan hal penting mendesak yang tidak bisa ditunda, pastikan kita melakukan hal-hal ini.

  1. Cuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun setelah menyentuh benda-benda yang berada di luar rumah. Menggunakan sarung tangan milik tenaga medis bukan solusi. Apakah kita tega memakainya di saat tenaga medis begitu kesulitan mendapatkannya saat ini dengan harga wajar? Virus korona bisa bertahan hingga 2-8 jam pada permukaan alumunium, bahkan 5 hari pada plastik. Hindari menyentuh area wajah dengan tangan yang belum dicuci bersih.
  2. Pakai masker jika ke tempat umum, WHO telah merumuskan rekomendasi bahwa setiap orang saat ini harus mengenakan masker ke mana pun. Orang yang tampak sehat di hadapan kita, bisa saja adalah pembawa virus. Dan di tempat umum, usahakan berjarak 1-2 meter dari orang lain. Yang perlu kita ingat selalu, pakailah masker kain 3 lapis, bukan dengan memakai masker medis. Masker medis diperuntukkan untuk mereka yang setiap harinya menangani pasien, bukan masyarakat umum.
  3. Sepulang dari aktifitas di luar, hindari bersentuhan dengan keluarga sebelum mengganti seluruh pakaian dan mencuci bagian tubuh yang tidak telindungi. Akan lebih baik jika langsung mandi.

Kita semua bisa bantu lakukan itu. Sejatinya menurut kami, masyarakat umum adalah garda terdepan dalam peperangan melawan pandemi ini. Masyarakat yang memegang kunci agar tidak perlu sampai ke garda paling akhir: para tenaga medis. Naikkan daya tahan tubuh dengan makan makanan yang bergizi seimbang dengan nutrisi cukup (makan sayur dan buah setiap hari), dan olahraga rutin. Berhenti merokok agar fungsi paru tidak memburuk, dan hentikan konsumsi alkohol (terbukti bahwa alkohol akan menurunkan daya tahan tubuh). Berharap semua itu bisa menurunkan jumlah pasien yang harus ditangani oleh tenaga medis, membuat mereka tidak perlu memiliki beban mental tambahan bahwa memilih siapa yang harus diselamatkan lebih dahulu jika angka kesakitan melonjak meningkat. Sebarkan semangat positif menjalani hari.

Dan berharap otoritas terkait, segenap jajaran pemerintahan akan memastikan perlindungan terbaik tersedia pada setiap mereka yang berada di garda akhir peperangan ini. Memastikan mereka tenang bekerja dengan APD terstandarisasi, menjadi tameng saat mereka distigmatisasi karena telah terpapar dengan pasien yang mereka rawat, dan menjamin bahwa tidak ada lagi nyawa-nyawa mereka yang kembali ke pangkuan Allah Swt hanya karena mereka tidak punya perlindungan paripurna saat merawat pasien. Kehadiran negara sungguh dibutuhkan di saat ini. Di saat virus yang sama-sama tidak dapat kita lihat ini, pelan tapi pasti, merenggut dengan nyata setiap jabat tangan dan peluk hangat yang biasa kita lakukan, obrolan nyaman di rumah makan atau pekarangan rumah, bahkan mampu dengan tega merenggut nyawa-nyawa yang bulan-bulan kemarin masih tersenyum ramah, masih berusaha mengobati pasien, hingga yang mengajar murid-murid di fakultas pencetak para dokter itu. Semoga sejak hari ini, tidak kita dengar lagi tenaga medis yang berpulang karena merawat pasien. Pun semoga, kita tidak kehilangan sumber aliran ilmu itu, lebih banyak lagi. Dengan tunduk takzim, penuh semoga, berharap kita semua bisa mau melakukan hal-hal di atas, dan pemerintah bersedia mengeksistensikan perannya secara maksimal, semoga Allah Swt mengabulkannya.

Sumber:

  1. Nugroho, Rizal Setyo. 2020. Rekap Kasus Positif Corona di Indonesia Selama Maret dan Prediksi di Bulan April. Diakses dari http://www.kompas.com/tren/read/2020/03/31/213418865/rekap-kasus-positif-corona-indonesia-selama-maret-dan-prediksi-di-bulan-april
  2. Kementerian Kesehatan RI. 2020. Situasi Terkini Perkembangan Coronavirus Disease (COVID-19) 6 Mei 2020. Diakses dari http://infeksiemerging.kemkes.go.id
  3. Sebayang, Rehia. 2020. Alert! WHO Resmi Tetapkan Corona Pandemi. Diakses dari https://www.cnbcindonesia.com/news/20200312064200-4-144245/alerrt-who-resmi-tetapkan-corona-pandemi
  4. Lokadata. 2019. Jumlah Dokter Umum dan Spesialis di Indonesia, 2019. Diakses dari https://lokadata.beritagar.id/chart/preview/jumlah-dokter-umum-dan-spesialis-di-indonesia-2019-1563946699
  5. Lokadata. 2019. Jumlah Penduduk Indonesia 2019 Mencapai 267 juta. Diakses dari https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/01/04/jumlah-penduduk-indonesia-2019-mencapai-267-juta-jiwa#
  6. Sani, Ahmad Faiz Ibnu. 2020. Wabah Corona, Dokter Spesialis Paru di Indonesia Cuma 1.106 Orang. Diakses dari  http://nasional.tempo.co/amp/1322827/wabah-corona-dokter-spesialis-paru-di-indoneia-cuma-1-106-orang
  7. Cavin, Barry Mikhael, dkk. 2020. Akan Sampai Kapan Perjuangan Kita Melawan Pandemi COVID-19?. Ikatan Alumni Departemen Matematika Universitas Indonesia.
  8. World Health Organization (WHO). 2020. Coronavirus Diseases 2019 (COVID-19) Situation Report-46. Diakses dari htpp://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/202000306-sitrep-46-covid-19.pdf