Apa yang Sebenarnya Dicari Pemilih dari Seorang Kandidat Seorang calon membawa banyak ciri sekaligus. Eksperimen yang mengacak profil kandidat membantu melihat mana yang mengubah dukungan, dan mengapa menyukai seseorang belum tentu berarti memilihnya. Dua calon berdiri di hadapan pemilih. Yang satu lebih muda dan berpendidikan tinggi. Yang lain sudah lama bekerja, tampak dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi berasal dari lingkungan yang berbeda. Keduanya membawa sejumlah kelebihan dan kekurangan. Mana yang akan dipilih? Pertanyaan itu mudah diajukan, tetapi jawabannya tidak mudah dibongkar. Kalau calon pertama lebih disukai, belum tentu usia mudanya yang menentukan. Mungkin pendidikannya. Mungkin pekerjaan sebelumnya. Mungkin justru ada sesuatu pada calon kedua yang membuat orang menjauh. Dalam kehidupan nyata, semua ciri itu datang sebagai satu paket. Kita mengenali orang, bukan daftar variabel. Justru di situlah kesulitan penelitian tentang perilaku pemilih bermula. Kemenangan seorang calon tidak dengan sendirinya menjelaskan bagian mana dari dirinya yang membuat orang memilih. Jens Hainmueller, Daniel J. Hopkins, dan Teppei Yamamoto menawarkan cara untuk membuka paket tersebut. Dalam artikel yang terbit di Political Analysis pada 2014, mereka menjelaskan bagaimana eksperimen conjoint dapat mengukur pengaruh beberapa ciri secara bersamaan. Salah satu contoh mereka adalah penilaian terhadap calon presiden hipotetis di Amerika Serikat. Pemilih menghadapi orang yang utuh Bayangkan kita ingin tahu apakah pendidikan tinggi membantu kandidat memperoleh dukungan. Membandingkan dua politisi yang sungguh-sungguh ada akan membawa banyak persoalan. Keduanya mungkin berbeda dalam partai, pengalaman, popularitas, cara berbicara, hingga jumlah uang kampanye. Pendidikan sulit dipisahkan dari semua itu. Eksperimen conjoint menyederhanakan persoalan dengan menyusun profil calon rekaan. Responden membaca dua profil berdampingan, lalu memilih salah satunya. Ciri pada tiap profil diacak sehingga pendidikan tertentu tidak selalu melekat pada usia, pekerjaan, atau pendapatan yang sama. Cobalah membandingkan pasangan di bawah ini. Anda juga bisa memberi nilai dukungan kepada masing-masing calon sebelum menentukan pilihan. Tidak ada jawaban yang dianggap benar. Kegiatan ini hanya membantu merasakan situasi yang dihadapi responden, bukan mengukur kecenderungan pemilih Indonesia. Banyak ciri, satu cara untuk memisahkannya Contoh kandidat dalam penelitian ini memuat delapan atribut. Ada usia, pendidikan perguruan tinggi, pekerjaan, pendapatan tahunan, agama, latar ras atau etnis, gender, dan pengalaman dinas militer. Partai serta sikap kebijakan tidak dimasukkan. Penulis memang memusatkan contoh ini pada ciri pribadi kandidat, bukan mencoba menjelaskan seluruh pertimbangan dalam pemilu. Enam atribut memiliki enam kemungkinan nilai. Dua lainnya memiliki dua. Jika semua kombinasi diperbolehkan, ada 186.624 profil yang mungkin terbentuk. Peneliti tentu tidak harus menunjukkan seluruhnya kepada setiap orang. Mereka mengambil profil secara acak, lalu mencari pola dari banyak perbandingan. Survei kandidat ini melibatkan 311 responden yang direkrut melalui Amazon Mechanical Turk. Mereka ditawari enam pasangan profil. Analisis yang dilaporkan menggunakan 1.733 perbandingan, atau 3.466 profil yang dinilai. Jumlah profil bukan jumlah orang. Satu responden dapat memberi beberapa jawaban. Pengacakan adalah bagian pentingnya. Kandidat lulusan universitas bergengsi dapat muncul dengan beragam pekerjaan dan pendapatan. Dengan demikian, pengaruh pendidikan dapat dirata-ratakan di atas campuran ciri lain yang ditentukan oleh rancangan eksperimen. Pendidikan memberi keuntungan, tetapi angka perlu dibaca utuh Hasil contoh ini memperlihatkan bahwa pendidikan dapat mengubah penilaian. Kandidat lulusan Ivy League, kelompok universitas bergengsi di Amerika Serikat, memperoleh skor dukungan rata-rata 0,13 lebih tinggi daripada kandidat tanpa gelar sarjana. Angka tersebut berada pada skala yang sudah diubah menjadi 0 sampai 1. Skala asli pertanyaannya adalah 1 sampai 7, dari tidak pernah mendukung sampai selalu mendukung. Setelah dikembalikan ke skala itu, selisih 0,13 setara dengan sekitar 0,78 poin. Ini perubahan penilaian, bukan tambahan 13 persen suara. Pekerjaan juga menimbulkan perbedaan. Kandidat yang disebut bekerja sebagai penjual mobil mendapat penilaian sekitar 0,08 lebih rendah daripada pemilik usaha. Usia 75 tahun mendapat penilaian sekitar 0,07 lebih rendah daripada usia 36 tahun. Pengalaman dinas militer memberikan kenaikan yang lebih kecil, sekitar 0,03. Pembaca bisa membuka setiap perbandingan dalam grafik. Perhatikan juga garis di sekitar titik. Garis itu menunjukkan ketidakpastian estimasi, bukan rentang sifat yang dimiliki kandidat. Selisih kecil dengan rentang lebar memberi alasan lebih lemah untuk menarik kesimpulan tegas. Dalam contoh yang sama, penulis tidak menemukan perbedaan dukungan yang jelas berdasarkan gender, sementara pengaruh pendapatan serta latar ras atau etnis relatif terbatas. Hasil itu tidak membuktikan bahwa diskriminasi tidak ada. Temuannya berlaku pada jawaban sampel ini, dengan informasi dan pilihan yang diberikan dalam eksperimen. Rata-rata bukan cerita setiap pemilih Istilah teknis untuk selisih yang diukur adalah average marginal component effect, biasa disingkat AMCE. Untuk membacanya, kita dapat bertanya seberapa besar dukungan berubah ketika satu nilai atribut menggantikan nilai pembanding, setelah dirata-ratakan di atas ciri lain dan profil lawannya. Kata pembanding tidak boleh hilang. Keuntungan lulusan Ivy League tadi dihitung terhadap kandidat tanpa gelar sarjana. Penurunan dukungan pada usia 75 tahun dihitung terhadap usia 36 tahun. Mengganti pembanding berarti mengganti pertanyaan yang dijawab oleh angkanya. Rata-rata itu juga tidak membuat seluruh responden memiliki selera yang sama. Sebagian bisa menyukai pengalaman militer, sebagian tidak. Estimasi merangkum pengaruh rata-rata dalam rancangan tersebut. Ia tidak membaca pikiran satu pemilih, dan tidak memberikan skor kemenangan untuk seorang calon tertentu. Menyukai calon belum tentu membuat orang memilihnya Salah satu bagian paling menarik dari penelitian ini muncul ketika penulis membedakan dua pertanyaan. Seberapa besar seseorang mendukung tiap calon? Dan jika harus memilih satu dari dua calon, siapa yang dipilih? Kandidat berpendapatan sangat tinggi, 5,1 juta dolar setahun, mendapat skor dukungan sekitar 0,031 lebih rendah daripada kandidat berpendapatan 32 ribu dolar. Namun, ketika responden harus memilih satu dari dua profil, penulis melaporkan bahwa penalti untuk kandidat sangat kaya itu hampir nol. Orang dapat merasa kurang nyaman dengan suatu ciri tanpa menjadikannya alasan utama untuk menolak calon. Lawan yang tersedia ikut menentukan pilihan. Dua calon mungkin sama-sama kurang disukai, tetapi responden tetap harus memilih salah satu. Perbedaan jenis ukuran terlihat pula pada agama. Dibandingkan profil dengan kategori agama None, atau tanpa agama, profil Mormon mendapat skor dukungan sekitar 0,06 lebih rendah. Dalam pilihan berpasangan, peluangnya dipilih turun rata-rata sekitar 14 poin persentase. Keduanya mengukur hal yang berbeda sehingga besar angkanya tidak bisa langsung dipertandingkan. Angka tentang agama tersebut merekam respons peserta survei di Amerika Serikat. Ia bukan penilaian atas kualitas suatu agama atau petunjuk untuk menyingkirkan kelompok tertentu. Bagi pembaca Indonesia, pelajarannya adalah pentingnya memeriksa bagaimana identitas memengaruhi penilaian, dengan bukti dari konteks yang sesuai. Eksperimen yang rapi tetap memiliki batas Pengacakan memberi dasar yang kuat untuk menghubungkan perubahan atribut dengan perubahan jawaban dalam eksperimen. Akan tetapi, responden Mechanical Turk bukan sampel yang mewakili seluruh pemilih Amerika Serikat. Terlebih lagi, penelitian ini tidak mengukur pemilih Indonesia. Profil singkat juga berbeda dari kampanye sungguhan. Dalam pemilu, informasi tidak selalu tersedia secara merata. Ada pemilih yang mengetahui rekam jejak calon, ada yang hanya mengenali nama atau mendapat cerita dari orang lain. Isyarat partai dan kebijakan, yang sengaja tidak dimasukkan dalam contoh ini, dapat menjadi bagian penting dari keputusan. Rancangan survei perlu diperiksa. Apakah peserta makin lelah setelah beberapa tugas? Apakah posisi profil di kiri atau kanan memengaruhi pilihan? Apakah urutan atribut mengubah perhatian? Penulis membahas pemeriksaan seperti ini agar pengaruh atribut tidak tertukar dengan pengaruh cara pertanyaan disajikan. Jawaban yang dianggap pantas secara sosial juga dapat memengaruhi survei. Menampilkan banyak ciri memberi responden lebih dari satu alasan untuk memilih, tetapi tidak otomatis menghapus seluruh bias. Karena itu, hasil eksperimen paling berguna ketika dibaca bersama rancangan, sampel, dan jenis jawaban yang diukur. Pertanyaan yang lebih berguna untuk pemilu kita Untuk Indonesia, manfaat penelitian ini terutama terletak pada cara bertanya. Daripada berhenti pada pernyataan bahwa pemilih mencari calon muda, berpengalaman, atau dekat dengan warga, kita dapat merancang perbandingan yang menguji pengaruh masing-masing ciri secara lebih jelas. Atributnya tidak harus mengikuti contoh Amerika Serikat. Sebuah penelitian tentang pemilihan kepala daerah, misalnya, dapat memeriksa pengalaman pemerintahan, rekam pelayanan, atau kedekatan dengan daerah. Itu usulan rancangan baru, bukan hasil yang sudah ditemukan oleh artikel ini. Pilihan atribut perlu mengikuti pertanyaan penelitian. Bila ingin mengetahui pertukaran antara pengalaman dan rekam integritas, kedua informasi itu harus didefinisikan dengan terang. Bila ingin meneliti pengaruh partai, label partai perlu hadir dalam rancangan. Faktor yang tidak diujikan tidak dapat diberi kesimpulan dari hasil ini. Bagi pembaca berita politik, ada kebiasaan sederhana yang bisa dibawa pulang. Saat mendengar klaim bahwa suatu ciri membuat kandidat disukai, tanyakan dibandingkan dengan siapa, diukur melalui pertanyaan apa, dan pada pemilih yang mana. Pemilih memang menilai calon sebagai satu sosok. Penelitian membantu kita mengurai penilaian tersebut tanpa melupakan bahwa keputusan akhirnya tetap lahir dari perbandingan. Yang dicari bukan selalu kandidat sempurna. Sering kali, yang dipilih adalah orang yang dinilai lebih layak daripada pilihan lain yang tersedia. Sumber Hainmueller, Jens, Daniel J. Hopkins, dan Teppei Yamamoto. 2014. Political Analysis 22(1), 1–30. https://doi.org/10.1093/pan/mpt024 Catatan angka Koefisien dan galat baku disalin dari uraian hasil pada halaman jurnal 19, bagian 5.1. Pemilihan enam hasil ini tidak mencakup semua koefisien Gambar 2. Interval dihitung ulang sebagai koefisien ± 1,96 × galat baku yang dibulatkan dalam teks, sehingga merupakan pendekatan dan dapat berbeda sedikit dari Gambar 2. Dataset replikasi tidak digunakan.