Apa yang Bisa Diberikan Demokrasi kepada Pertumbuhan Ekonomi Sebuah penelitian mengikuti perjalanan 175 negara selama setengah abad. Hasilnya memberi alasan ekonomi untuk merawat demokrasi, sekaligus mengingatkan betapa lama manfaatnya terbentuk. Muhammad Habibi Setelah pemilu selesai, pertanyaan yang paling terasa bagi banyak orang kembali ke hal sehari-hari. Apakah pekerjaan akan lebih mudah didapat? Bisakah biaya sekolah dibayar tanpa mengorbankan kebutuhan lain? Perdebatan tentang demokrasi akhirnya berhadapan dengan urusan yang sangat dekat dengan meja makan. Dari sini muncul anggapan bahwa negara akan lebih cepat maju jika keputusan berada di tangan sedikit orang. Pemerintah dapat bergerak tanpa banyak perlawanan, proyek segera dijalankan, dan perselisihan politik tidak berlarut-larut. Kedengarannya masuk akal. Namun, kecepatan mengambil keputusan belum menjawab apakah keputusan itu membawa manfaat yang bertahan lama. Daron Acemoglu dan rekan-rekannya membawa persoalan ini ke data. Dalam Democracy Does Cause Growth, yang terbit di Journal of Political Economy pada 2019, mereka meneliti perubahan politik dan ekonomi di 175 negara. Temuan utamanya menunjukkan bahwa transisi demokrasi yang bertahan dapat membuat produk domestik bruto atau PDB per kapita sekitar 20 persen lebih tinggi dalam jangka panjang dibandingkan keadaan seandainya negara tetap tidak demokratis. Ada pekerjaan panjang di balik angka tersebut. Sebagian besar manfaat dalam model utama baru terwujud sekitar 25 hingga 30 tahun setelah transisi. Untuk memahami artinya, kita perlu melihat negara yang diteliti, memperhatikan ekonomi sebelum perubahan politik, lalu mengikuti cara peneliti membangun perbandingan. Jejak setengah abad di 175 negara Penelitian ini mengikuti data tahunan pada 1960–2010. Cakupannya melintasi negara dengan sejarah, tingkat pendapatan, dan kemampuan pemerintahan yang berbeda. Peta di bawah memberi gambaran tentang luasnya bahan penelitian tersebut. Pilih sebuah negara dan geser tahunnya untuk melihat bagaimana klasifikasi politiknya berubah dalam arsip. Ada dua jumlah negara yang perlu dibedakan. Indikator demokrasi penulis mencakup 184 negara, sedangkan sampel utama untuk meneliti PDB per kapita mencakup 175 negara. Peta ini menampilkan kelompok yang kedua. Tidak semua anggotanya mempunyai data ekonomi lengkap selama 51 tahun, sehingga lamanya catatan tiap negara berbeda. Penulis menggabungkan beberapa sumber, termasuk Freedom House dan Polity IV, untuk membedakan negara demokratis dan nondemokratis. Ukurannya menangkap sekumpulan lembaga seperti pemilu yang kompetitif, pembatasan kekuasaan eksekutif, dan keterbukaan partisipasi. Warna demokratis pada peta tetap dapat mencakup negara yang menghadapi korupsi, klientelisme, atau lemahnya birokrasi. Indonesia memperlihatkan sulitnya membaca sebuah transisi Riwayat Indonesia membuat persoalan penelitian ini terasa lebih dekat. Dalam data yang digunakan penulis, PDB per kapita turun tajam pada 1998. Tahun pertama Indonesia dikodekan sebagai demokrasi adalah 1999. Penanda tersebut mengikuti ukuran penelitian, sedangkan perubahan politik berlangsung melalui proses yang lebih panjang. Coba perhatikan urutannya pada grafik. Penurunan ekonomi sudah terjadi sebelum perpindahan kategori politik. Jika kita mulai menghitung dari titik paling rendah, pemulihan sesudahnya mudah terlihat sebagai keberhasilan yang besar. Tetapi sebagian kenaikan mungkin merupakan pemulihan dari keterpurukan yang mendahului transisi. Kesalahan juga dapat berjalan ke arah sebaliknya. Beban krisis yang belum selesai bisa menekan ekonomi pada awal demokrasi, lalu membuat sistem baru tampak gagal. Karena itu, melihat angka sebelum dan sesudah pergantian rezim saja belum cukup untuk menilai pengaruhnya. Kita perlu memperkirakan perjalanan ekonomi yang mungkin terjadi jika perubahan politik tersebut tidak berlangsung. Grafik negara di sini berguna untuk membaca urutan kejadian. Ia tidak memisahkan pengaruh demokrasi dari semua perubahan lain. Catatan Indonesia dalam penelitian ini juga berhenti pada 2010, sehingga belum mencakup seperempat abad setelah transisi yang dikodekan pada 1999. Pilihan Korea Selatan, Chile, dan Portugal memperlihatkan bahwa negara lain memiliki kalender dan perjalanan ekonomi yang berbeda. Dua perjalanan ekonomi yang tak bisa disaksikan bersamaan Pertanyaan utama penelitian ini dapat dibayangkan melalui dua perjalanan dari negara yang sama. Pada perjalanan pertama, negara beralih ke demokrasi dan mempertahankannya. Pada perjalanan kedua, negara tetap tidak demokratis. Yang ingin diketahui adalah seberapa jauh ukuran ekonomi per orang akan berbeda setelah waktu yang cukup panjang. Satu negara tentu hanya menjalani satu sejarah. Perjalanan yang satunya harus diperkirakan. Peneliti menggunakan data banyak negara dan model untuk membangun keadaan pembanding itu. Di sinilah letak persoalan yang jauh lebih sulit daripada menunjukkan bahwa negara demokratis pada umumnya lebih kaya. Jika ukuran ekonomi per orang pada jalur pembanding diberi nilai 100, temuan utama dapat dibayangkan sebagai nilai sekitar 120 pada jalur demokratisasi. Jalur pembanding juga boleh mengalami pertumbuhan. Selisih tersebut menunjukkan ekonomi yang lebih besar dibandingkan keadaan tanpa demokratisasi pada waktu yang sama. Dengan demikian, tambahan sekitar 20 persen itu bukan tambahan 20 poin persentase pada laju pertumbuhan setiap tahun. Angka tersebut juga tidak menjanjikan kenaikan penghasilan yang sama untuk setiap keluarga. PDB per kapita mengukur produksi ekonomi rata-rata per orang, sementara pembagian hasilnya memerlukan pemeriksaan lain. Contoh rupiah pada visual hanya membantu membaca besarnya selisih. Nominalnya tidak diambil dari data Indonesia. Sementara itu, angka hasil estimasi yang sesungguhnya dapat diperiksa pada grafik penelitian berikutnya, lengkap dengan rentang ketidakpastian dan pilihan horizon waktunya. Menghitung pengaruh sambil menjaga perbandingannya Peneliti memulai dengan model yang mengikuti perubahan dalam setiap negara. Mereka memperhitungkan riwayat PDB, termasuk empat tahun sebelumnya dalam spesifikasi utama. Karakteristik tetap suatu negara dan pengaruh tahun yang dialami bersama juga dikendalikan. Langkah ini membantu menyaring perbedaan yang menetap antarnegara serta kejadian global yang muncul pada saat yang sama. Mereka kemudian mengubah cara membuat pembanding. Pengamatan diberi bobot menurut perkiraan peluang negara mengalami transisi, dengan riwayat ekonominya ikut diperhitungkan. Tujuannya mendekatkan perbandingan antara negara yang berubah dan negara yang dapat menjadi pembanding yang layak. Demokratisasi, bagaimanapun, tidak terjadi melalui undian acak. Pendekatan ketiga memanfaatkan gelombang demokratisasi di kawasan yang sama, dengan pengelompokan berdasarkan rezim awal. Perubahan pada negara lain membantu menjelaskan peluang transisi suatu negara. Cara ini memerlukan asumsi bahwa gelombang tersebut memengaruhi ekonominya melalui perubahan demokrasi, setelah faktor lain diperhitungkan. Jalur pengaruh lain yang luput dari model dapat mengganggu penafsiran. Ketiga pendekatan memberi bukti yang secara umum searah. Namun, besarnya pengaruh tidak persis sama. Grafik di bawah memperlihatkan tiga cara estimasi di dalam pendekatan panel dinamis, masing-masing dengan empat tahun riwayat PDB. Rentangnya menunjukkan bahwa kesimpulan tentang arah pengaruh perlu dibaca bersama ketidakpastian tentang besarnya manfaat. Manfaatnya dapat berawal dari sekolah dan layanan kesehatan Hubungan dengan ekonomi menjadi lebih mudah dipahami ketika perhatian beralih ke keputusan pemerintah. Siapa yang mendapat akses sekolah? Apakah layanan kesehatan menjangkau penduduk yang sebelumnya sulit dilayani? Seberapa besar penerimaan yang dapat dikumpulkan negara untuk membiayai kebutuhan tersebut? Dalam penelitian ini, demokratisasi diikuti peningkatan partisipasi sekolah dasar dan menengah serta penurunan kematian anak. Penulis juga menemukan peningkatan penerimaan pajak sebagai bagian dari PDB dan kemungkinan reformasi ekonomi yang lebih besar. Temuan itu memberi petunjuk tentang pekerjaan pemerintah yang dapat menghubungkan perubahan politik dengan kondisi ekonomi. Seorang anak yang lebih sehat dan bersekolah lebih lama mendapat kesempatan mengembangkan kemampuan yang lebih baik. Hasil ekonominya membutuhkan waktu. Perbaikan layanan yang dimulai sekarang dapat baru terasa lebih luas ketika generasi tersebut masuk ke dunia kerja. Perspektif ini membantu menjelaskan mengapa manfaat yang diperkirakan penelitian tidak langsung muncul sesudah pemilu. Petunjuk lain mengarah pada investasi yang meningkat, perdagangan yang lebih terbuka, dan kerusuhan sosial yang berkurang. Namun, estimasi untuk kelompok ini tidak sama presisinya di seluruh model. Visual berikut memisahkan temuan yang lebih konsisten dari petunjuk yang masih memiliki ketidakpastian lebih besar. Penulis juga mengakui batas pemeriksaan mekanisme mereka. Perubahan pada sekolah, kesehatan, dan investasi dapat saling berkaitan, sementara sebagian mungkin ikut dipengaruhi ekonomi yang membaik. Penelitian ini belum memastikan berapa bagian kenaikan PDB yang berasal dari setiap jalur. Hubungan yang masuk akal tetap perlu dibedakan dari mata rantai yang sudah dapat dibuktikan secara terpisah. Perlukah menunggu kaya terlebih dahulu Ada pandangan bahwa demokrasi baru dapat bekerja baik setelah masyarakat cukup makmur dan berpendidikan. Jika demikian, kita semestinya menemukan manfaat ekonomi yang jauh lebih kecil, atau bahkan pengaruh negatif, pada negara dengan pendapatan awal rendah. Penelitian ini tidak menemukan bukti yang meyakinkan bahwa pengaruh demokrasi berbeda menurut tingkat pendapatan awal. Sebagian perbedaan terlihat menurut tingkat pendidikan menengah, tetapi besarnya tidak cukup untuk membuat pengaruh demokrasi menjadi negatif pada negara dengan modal manusia yang rendah. Hasil itu melemahkan alasan ekonomi untuk menunda demokrasi sampai negara mencapai tingkat kekayaan tertentu. Sekolah dan kemampuan pemerintah tetap perlu dibangun. Keduanya justru muncul sebagai bagian dari pekerjaan yang mungkin membuat perubahan politik menghasilkan manfaat ekonomi. Pekerjaan yang lebih panjang daripada satu masa jabatan Untuk Indonesia, penelitian ini menyediakan arah pertanyaan. Apakah persaingan politik membuat pemerintah lebih tekun memperbaiki sekolah dan layanan kesehatan? Dapatkah pengawasan warga menjaga anggaran agar dipakai untuk kebutuhan yang hasilnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian? Penilaian demokrasi menjadi lebih berguna ketika dihubungkan dengan keputusan yang dapat diperiksa. Besarnya manfaat dalam paper tetap merupakan estimasi lintas negara, dengan data yang berakhir pada 2010. Ia tidak menghasilkan angka pengaruh khusus Indonesia dan tidak menilai kinerja pemerintahan Indonesia saat ini. Peta serta riwayat negara membantu kita membaca bahan penelitiannya, sementara estimasi kausal berasal dari analisis yang menggabungkan banyak negara. Ukuran ekonomi yang lebih besar pun belum mencakup seluruh harapan warga. Kita masih perlu memeriksa pembagian kesejahteraan, keamanan pekerjaan, mutu pelayanan, dan biaya lingkungan dari kegiatan ekonomi. PDB per kapita menyediakan satu bagian penting dari penilaian tersebut, tetapi banyak pengalaman hidup tidak tercatat di dalamnya. Kebebasan memilih dan mengganti pemimpin juga mempunyai nilai tersendiri. Temuan ekonomi dapat memperkaya alasan untuk mempertahankannya. Pada saat yang sama, manfaat yang terbentuk selama puluhan tahun menuntut perhatian pada kebijakan yang tidak selalu segera menghasilkan kemenangan politik. Sekolah yang membaik hari ini mungkin baru menunjukkan hasil besarnya ketika murid-muridnya dewasa. Pemerintahan yang membangunnya boleh jadi sudah lama berganti. Tantangan demokrasi kita adalah menjaga agar pekerjaan seperti itu terus berjalan, meskipun persaingan untuk memenangi pemilu datang jauh lebih cepat daripada hasil yang sedang ditunggu. Bacaan yang menjadi pijakan Daron Acemoglu, Suresh Naidu, Pascual Restrepo, dan James A. Robinson. 2019. Democracy Does Cause Growth. Journal of Political Economy 127(1), 47–100. https://doi.org/10.1086/700936 Visual interaktif https://muhammad-habibi-demokrasi-pertumbuhan.habibi-id.chatgpt.site Catatan angka Grafik estimasi memakai Tabel 2 kolom 3, 7, dan 11, halaman 60–61. Persen tepat dihitung dari model log PDB dengan 100 × (exp(estimasi/100) − 1). Interval normal 95 persen dihitung pada skala log dari estimasi ± 1,96 × standard error, lalu dikonversi. Contoh nominal rupiah bersifat hipotetis. Pembahasan Indonesia merupakan penafsiran penulis artikel. Arsip replikasi resmi untuk peta dan riwayat negara https://knowledge.uchicago.edu/records/de4b6-9qv06 Sampel peta mencakup 175 negara dengan variabel PDB y nonmissing dalam arsip. Tahun klasifikasi demokrasi mengikuti indeks ANRR. Riwayat per negara bersifat deskriptif dan tidak menunjukkan pengaruh kausal khusus negara. Peta dasar modern menggunakan Natural Earth; batas sejarah setiap tahun tidak direkonstruksi.