Profil

Kaltim Post – DIA tertarik dengan dunia politik. Belajar di program studi (prodi) Ilmu Pemerintahan (IP) Universitas Mulawarman (Unmul), Muhammad Habibi tidak sekadar berbicara politik sederhana. Yakni merebut kekuasaan. ”Tapi, bagaimana kita dapat berperan menyejahterakan masyarakat setelah berkuasa,” ungkapnya kepada Kaltim Post Selasa (19/12). Perawakannya biasa saja. Layaknya pemudapada umumnya.

Kacamata minus 5 bertengger di batang hidungnya. Habibi tertarik belajar politik lebih jauh. Bukan sekadar di organisasi. Dia mempelajarinya langsung dengan kuliah lagi. Mulanya Habibi tercatat sebagai mahasiswa Akuntansi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unmul pada 2012. Setahun berlalu, dia merasa seperti salah jurusan. Bukannya pindah, Habibi justru memilih double degree dengan menjadi mahasiswa baru pada 2014 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), kampus yang sama.

Habibi pun aktif ikut berbagai lomba karya tulis ilmiah. Paling menarik, dia pernah mewakili Unmul dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional di Universitas Indonesia pada 2013 lalu. Dia menjadi peserta termuda. Saat itu, Habibi masih semester 2 dan berhasil menyabet juara 3 nasional. Lomba menulis paper, esai, debat hingga business plandilahapnya. Habibi juga tidak pulang dengan tangan hampa dari setiap lomba yang diikuti.

Dia tidak ingin jadi mahasiswa biasa-biasa saja. Mengikuti berbagai kegiatan dianggapnya tak masalah asal membentuk diri jadi lebih baik. Bukan tanpa kendala menjalani dua program studi bersamaan. Jadwal tugas berbarengan jadi hambatan. Hal sederhana namun cukup fatal pernah dia lakukan. ”Kadang suka salah tulis NIM (Nomor Induk Mahasiswa). Tugas buat IP malah nulis NIM Akuntansi, kadang sebaliknya,” jelas pria kelahiran 1993 tersebut. Apalagi jika ada tugas dengan deadline bersamaan.

Alhamdulillah IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) keduanya di atas 3,50. Rencana pengin wisuda sekaligus. Untuk IP sudah lulus bulan ini, akuntansi insyaallah menyusul Maret nanti,” ungkap pria yang tinggal di Jalan Yos Sudarso, Sangatta Utara tersebut. Tercatat, masa studi Akuntansi, yakni 5 tahun 3 bulan, sedangkan IP sebaliknya. Tiga tahun 5 bulan. Dia lebih cepat merampungkan studinya di bidang politik karena di situlah dia merasa nyaman. Seakan menemukan passion setelah dua tahun bergelut dengan studi menyoal keuangan.

KEHILANGAN KAKI

Hidup tidak semulus yang diinginkan. September lalu, Habibi harus ikhlas kehilangan kaki kanannya karena kecelakaan. Dalam perjalanan dari rumah menuju Samarinda, dia melihat pengendara motor melaju dari arah berlawanan. Pengendara tersebut menabrak lubang dan motornya terpental ke arah kaki Habibi.

Tidak ada harapan dari luka yang infeksi. Keadaan terus memburuk. Setelah menjalani operasi fiksasi eksternal (perawatan bedah yang digunakan untuk menstabilkan tulang dan jaringan lunak), ternyata hanya mampu bertahan dua minggu. ”Bisa dibilang kaki remuk, pembuluh darah juga putus. Jadi di bawah lutut akhirnya amputasi,” jawab dia. “Akhirnya ikhlas. Sekarang sudah punya kaki palsu, tapi masih adaptasi untuk pemakaian,” lanjut Habibi.

Dia tidak merasa dunianya runtuh seketika. Justru jadi titik pembuktian. Hal tersebut bukan akhir. Bahkan kini dia sedang mempersiapkan program pascasarjana. Berniat mengambil prodi Ilmu Pemerintahan di Jogjakarta. ”Tanggal 30 ini tesnya,” ujar alumnus SMA 1 Sangatta Utara tersebut. Fokusnya adalah membuat ilmu yang dia miliki berguna lewat penelitian.

Dia ingin membuat penelitian atau jurnal terindeks Scopus atau Thomson. Merupakan layanan database abstrak dan sitasi (kutipan) terbesar di dunia. Di mana banyak institusi menjadikan Scopus sebagai tolok ukur kualitas jurnal. Dia kadung cinta dengan dunia politik. Bahkan mimpinya, yakni menjadi peneliti di bidang tersebut. Kini, Habibi sedang dalam proses menerbitkan buku karangan perdananya. “Tema bukunya tentang Politik Anggaran,” pungkas dia. (riz/k15)

http://kaltim.prokal.co/read/news/320065-kadang-suka-salah-tulis-nim-bermimpi-jadi-peneliti.html

https://www.sketsaunmul.co/sosok/habibi-sosok-inspiratif-yang-tidak-menyerah-di-tengah-kekurangan/baca