Ketimpangan Wilayah Barat dan Timur Indonesia

Diskursus ketimpangan wilayah barat dan Timur Indonesia sudah menjadi hal yang dapat kita lihat dengan jelas, namun sulit untuk dinyatakan secara tepat dan benar. Wilayah manakah yang tergolong Barat dan manakah yang tergolong Timur? Sebagian analisis memasukkan Kalimantan sebagai salah satu provinsi terkaya kedalam wilayah Barat, sementara analis lainnya meletakkan di wilayah Timur. Di samping itu pusat-pusat perdagangan  dan misi keagamaan semasa kolonial biasanya juga menjadi kantong daerah kemajuan, walaupun berada di bagian Timur, misalnya Manado, Minahasa, Maluku, termasuk juga Kalimantan Tengah, Lokasi tempat ibukota Republik Indonesia direncanakan dipindahkan. Sebagian wilayah yang enggan untuk turut merdeka bersama pada tanggal 17 Agustus 1945 terletak di kantong-kantong “kemakmuran kolonialisme” di bagian Timur.

Dalam aspek ekonomi, ketimpangan wilayah Barat dan Timur tidak muncul sampai abad ke-19 atau pada masa VOC (Vereneeging Oost-Indische Compagny). Selama pemerintahan Presiden Soekarno ketimpangan semacam itu pun lebih dipahami antara Jawa dan Luar Jawa.

Akan tetapi pembangunan pesat sejak dekade 1970-an berpusat di Jawa. Perkembangan ekonomi berikutnya melebar ke Pulau Sumatera yang berdekatan dengan Jawa, terutama Jakarta perlu dicatat perkembangan perekonomian melintasi Selat Sunda ke Lampung sebenarnya sudah dilaksanakan sejak abad ke-16 oleh Kesultanan Banten. Pada dekade 1980-an perkembangan ekonomi di Jawa dan Sumatera telah meninggalkan wilayah lain di Timur Indonesia. Hal semacam inilah yang menciptakan dimensi ketimpangan Barat dan Timur Indonesia.

Paradoks ketimpangan ini muncul akibat ketimpangan peran dan perolehan kue pembangunan masing-masing kawasan tersebut. Kawasan Timur memiliki wilayah yang luas, termasuk dalam jumlah pulau. Keluasan wilayah ini berkonsekuensi pada keluasan skala dan dampak pembangunan wilayah. Pada tahun 2005 total luas kawasan Timur Indonesia sekitar 1,28 juta km2 atau dua kali lipat luas wilayah Kawasan Barat Indonesia (0,6 juta km2). Namun tingkat kepadatan penduduk di kawasan Barat telah mencapai 304 jiwa/km2 atau hampir sepuluh kali lipat dari kepadatan penduduk di Kawasan Timur Indonesia (31 jiwa/km2).

Kawasan Timur mendominasi wilayah hutan. Hutan merupakan aspek ekologi penting, tidak hanya ditingkat nasional namun juga untuk kepentingan warga dunia. Kelestarian hutan di Kawasan Indonesia Timur memiliki aspek strategis dalam pembangunan berkelanjutan atau berbasis lingkungan  hidup. Sebagian besar hutan berada di Kawasan Indonesia Timur. Jumlah keseluruhan hutan mencapai 105.797 ribu Ha. Terdapat 24.831 ribu Ha kawasan hutan lindung, 17.610 ribu Ha. Kawasan suaka alam dan pelestarian lingkungan, 18.157 ribu Ha kawasan hutan produksi terbatas, 27.847 ribu Ha kawasan hutan produksi tetap, 17.352 ribu Ha kawasan hutan yang dapat dikonversi.

Meskipun memiliki peran penting di atas, akan tetapi Kawasan Timur Indonesia mendapatkan hasil pembangunan lebih rendah. Sebagaimana diindikasikan oleh ketersediaan  infrastruktur, listrik dan transportasi. Konsekuensinya penanaman modal dalam dan luar negeri di wilayah ini lebih rendah daripada Kawasan Barat Indonesia. Akhirnya produk Domestik Regional Bruto (PDRB) wilayah ini lebih rendah daripada Kawasan Barat.

Sejalan dengan itu, warga akhirnya tertuju kepada pekerjaan dominan di luar sektor formal seperti beternak. Jenis pekerjaan semacam ini tidak memiliki nilai tambah yang besar. Tanpa bersentuhan intensif dengan pasar, maka keuntungan sulit didapat dan meningkat. Memang selama krisis moneter tahun 1998 sempat teruji justru jenis pekerjaan ini terhindar dari krisis.

Akhirnya, masih perlu dicermati ketimpangan di dalam wilayah Barat itu sendiri. Ekonomi Indonesia berkembang pada klaster-klaster ekonomi regional, terutama di Jawa, Bali, Sumatera, dan Kalimantan. Lokasi tersebut sepintas terlihat tersebar, namun perkembangan ekonomi wilayah lebih didorong oleh keeratan hubungannya dengan pasar internasional. Dalam konteks demikian Kota Jakarta menduduki peran yang sangat penting. Jakarta juga menjadi pusat aglomerasi di Indonesia. Sehingga ketimpangan ekonomi tetap terjadi di daerah Indonesia atara wilayah barat dan timur.

 

Sumber: Ivvanovich Agusta. 2014. Ketimpangan Wilayah dan Kebijakan Penanggulangan di Indonesia: Kajian Isu Strategis, Historis dan Paradigmatis Sejak Pra Kolonial. DKI Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia

2 tanggapan untuk “Ketimpangan Wilayah Barat dan Timur Indonesia

  1. Glen Hilyard Balas

    Hi,

    Hope all is well…

    Can I ask if you will be interested to know “how your website muhammadhabibi.net can be setup with some clever Video Marketing technique that will pull in tons of qualified leads everyday for your business on autopilot basis…” ?

    Detailed step by step guide has been prepared exclusively for muhammadhabibi.net only, check it out here – http://saleschamp.co/nvm/?domain=muhammadhabibi.net

    Thank you.
    Glen
    Assistant Manager
    The Prospecto

  2. Sammy Bynoe Balas

    Hi,

    Sorry to send you this email. I am contacting you about the muhammadhabibi.net’s special offer has been put up here – http://freeinstantaccess.club/cbp.php?domain=muhammadhabibi.net

    Just checking if you would like to find out more about the shockingly simple system that makes anyone $10,000 per month without a website or a product of your own, and how you can follow this exact system too… just an hour or two daily gets you setup – with no worries about building websites or selling things or any of that complicated stuff…

    You can click this link to find out more here – http://freeinstantaccess.club/cbp.php?domain=muhammadhabibi.net

    Thank you,
    Sammy

    P/s: Do not reply this email, you can email directly to me at tetesim4@gmail.com

    ===
    To Unsubscribe – https://goo.gl/forms/VWTcKD3F1RGwVHIh2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *