Ketika seseorang memproduksi 1 ton padi pada tahun 1950 atau abad sebelumnya dan dimakannya sendiri, makan sistem produksi itu lebih menjadi objek antropologi tentang hadiah dewi padi bagi umat manusia. Peralatan yang dipakai, termasuk dalam bentuk organisasi yang memungkinkan produksi, menjadi bahan kajian. Apakah itu berlangsung dalam sistem perbudakan? Apakah itu berlangsung secara gotong royong dan sebagainya?

Namun, ketika seseorang memproduksi satu tahun padi pada 2019 dan ini merupakan hasil panen pertama dari tiga kali panen setahun, 1 Ton pada itu muncul dalam wajah yang sama sekali berbeda. Produksi satu tempat di tersebut tidak berdiri sendiri, tapi berlangsung dalam satu rangkaian sistem produksi. Petani memerlukan air yang berasal dari waduk yang disponsori negara. Walaupun tanahnya subur, dia “dipaksa” membeli pupuk yang berasal dari sebuah pabrik besar milik seorang borjuis yang tinggal di mana.

Pupuk yang diperoleh sebentar ini adalah hasil suatu sistem produksi yang sangat rumit. Di sana berupa berbagai urusan seperti temuan ilmiah pelbagai bahan kimia yang berada di luar jangkauan Pemahaman si petani. Itulah hasil penelitian selama bertahun tahun, bahkan puluhan tahun untuk menghasilkan suatu teman ilmiah. Penelitian tersebut juga melibatkan puluhan ahli yang dididik dalam puluhan universitas.

Ketika suatu penemuan ini yang berhasil dihubungkan, ini berarti bahwa itulah hasil akhir setelah diteliti lagi dalam suatu lembaga yang sama sekali berbeda untuk menyerukan siapa yang sungguh sungguh berharap atas teman itu. Dengan demikian, muncul organisasi hak cipta, merek dagang, dan lain lain.

Pabrik pupuk itu dibangun sudah pasti di sana diperlukan izin yang diberikan oleh negara; tanpa izin Usaha tidak ada yang boleh dibangun. Seluruh produksi pupuk dipasarkan oleh lembaga lembaga bisnis yang pemasarannya profesional dan menyalurkannya dengan berbagai cara seperti transportasi didarat laut maupun udara.

Dengan demikian, pabrik, dia dan penemuan ilmiah, universitas, hak cipta dan merek dagang, lembaga bisnis pemasaran, transportasi, dan akhirnya negara, seluruhnya berada di dalam suatu konveksitas besar yang berada di balik produksi satu ton tadi salah satu di desa abad ke-21. Semuanya sama sekali tidak berarti membuat sang petani akan menjadi kaya raya. Semua kekayaan itu bertumpuk di tempat lain, termasuk di pabrik pupuk milik sang borjuis yang mempekerjakan ribuan buruh dan sebagian besar diantaranya berasal dari masyarakat petani.

Dengan demikian, satu tahun pada tahun 1950 mengalami suatu perubahan kualitatif ketika memasuki tahun 2019, dari abad 20 ke abad 21. Perubahan itulah yang dikatakan Karl Max dalam kalimat pertama Das Kapital sebagai “kekayaan masyarakat di mana model of production kapitalis berkuasa menunjukkan dirinya sebagai akumulasi komoditas yang luar biasa besar….”

93 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *